لَا تَمُرُّ بِهِ سَاعَةٌ لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ تَعَالَى فِيهَا، إِلَّا تَقَطَّعَتْ نَفْسُهُ عَلَيْهَا حَسَرَاتٍ، فَكَيْفَ إِذَا مَرَّتْ بِهِ سَاعَةٌ مَعَ سَاعَةٍ، وَيَوْمٌ مَعَ يَوْمٍ، وَلَيْلَةٌ مَعَ لَيْلَةٍ؟
Artinya:
Imam Al-Auza’i رحمه الله berkata:
“Tidaklah (seorang mukmin) berlalu satu jam tanpa ia mengingat Allah, melainkan jiwanya akan dipenuhi penyesalan atas waktu yang telah terlewat itu. Lalu bagaimana jika yang berlalu bukan hanya satu jam, tetapi jam demi jam, hari demi hari, dan malam demi malam?”
PENJELASAN
Al-Awza’i رحمه الله (wafat 157 H) adalah seorang imam besar kaum muslimin, ahli fikih negeri Syam, sekaligus salah seorang ulama salaf yang dikenal dengan kezuhudan dan kedalaman ibadahnya. Beliau memahami bahwa modal terbesar seorang hamba bukanlah harta atau usia, melainkan waktu. Karena itu beliau berkata:
“Tidaklah berlalu satu jam pun tanpa ia mengingat Allah, melainkan jiwanya akan dipenuhi penyesalan atas waktu yang telah terlewat itu. Lalu bagaimana jika yang berlalu bukan hanya satu jam, tetapi jam demi jam, hari demi hari, dan malam demi malam?”
Nasihat ini mengajarkan bahwa orang-orang saleh tidak hanya menyesali dosa yang mereka lakukan, tetapi juga menyesali waktu yang berlalu tanpa mendekatkan diri kepada Allah.
Hari ini, kita mudah menghabiskan berjam-jam untuk menggulir media sosial, menonton hiburan, atau membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat. Setelah itu kita berkata, “Tidak terasa, waktunya sudah habis.” Padahal yang sebenarnya habis bukan sekadar waktu, tetapi umur kita.
Setiap menit yang berlalu adalah bagian dari hidup yang tidak akan pernah kembali. Karena itu, orang yang mengenal Allah akan menghargai waktunya. Ia mungkin bekerja, belajar, beristirahat, atau bersama keluarganya, tetapi hatinya tetap hidup dengan zikir, syukur, niat yang baik, dan kesadaran bahwa seluruh hidupnya adalah ibadah.
Allah berfirman:
“Demi masa. Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1–3)
Imam Asy-Syafi’i رحمه الله bahkan berkata bahwa seandainya manusia hanya merenungkan surah ini, niscaya ia sudah cukup menjadi pelajaran bagi mereka. Sebab kerugian terbesar dalam hidup bukanlah kehilangan harta, melainkan kehilangan waktu yang tidak bisa dibeli kembali.
Namun mengingat Allah bukan berarti lisan harus terus berzikir setiap saat. Bekerja dengan niat mencari nafkah yang halal, menuntut ilmu, membantu orang tua, mendidik anak, atau menolong sesama juga dapat menjadi bentuk zikir kepada Allah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai tuntunan-Nya. Inilah yang membuat seluruh hidup seorang mukmin bernilai ibadah.
Maka jangan ukur hidup dari berapa lama kita telah hidup, tetapi dari berapa banyak waktu yang telah membawa kita semakin dekat kepada Allah. Sebab ketika kelak kita berdiri di hadapan-Nya, penyesalan terbesar bukanlah karena umur kita terlalu pendek, melainkan karena terlalu banyak waktu yang berlalu tanpa mengingat dan menaati-Nya.
📚 Al Mawaidz (247)
✒️ Madarif Institute
🎥 Youtube: Madarif Institute
📸 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org
Dukung dakwah dan karya Madarif Institute:
BSI 7314673349 a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA
