Dalam kehidupan, setiap manusia pasti dihadapkan pada berbagai pilihan. Ada kalanya seseorang harus menentukan pekerjaan, memilih pasangan hidup, menetapkan tempat tinggal, memulai usaha, atau mengambil keputusan-keputusan penting lainnya yang dampaknya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga pada masa yang akan datang. Pada saat seperti inilah Islam mengajarkan sebuah ibadah yang sangat agung, yaitu shalat Istikharah. Melalui ibadah ini, seorang hamba mengakui keterbatasan dirinya dan menyerahkan pilihan terbaik kepada Allah ﷻ yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Secara bahasa, istikharah berasal dari kata الاستخارة yang berarti memohon pilihan yang terbaik. Adapun secara istilah, istikharah adalah memohon kepada Allah agar dipilihkan di antara dua perkara atau lebih yang sedang dihadapi seorang hamba. Imam al-Munawi menjelaskan hakikat istikharah dalam Faidh al-Qadir sebagai berikut:
وحقيقتها: تفويض الاختيار إليه سبحانه، فإنه الأعلم بخيرها للعبد، والقادر على ما هو خير لمستخيره إذا دعاه أن يخير له فلا يخيب أمله.
”Hakikat istikharah adalah menyerahkan pilihan sepenuhnya kepada Allah Yang Mahasuci. Dialah yang paling mengetahui mana yang terbaik bagi hamba-Nya, dan Mahakuasa untuk mewujudkan pilihan terbaik bagi orang yang memohon kepada-Nya. Maka siapa yang meminta agar Allah memilihkan baginya, Allah tidak akan mengecewakan harapannya.”
(Faidh al-Qadir, Imam al-Munawi, jilid 5, hlm. 442, Dar al-Ma’rifah)
Penjelasan ini menunjukkan bahwa inti dari istikharah bukanlah mencari tanda-tanda gaib atau mimpi tertentu, melainkan mewujudkan tawakkal dan menyerahkan urusan kepada Allah setelah melakukan sebab-sebab yang dibenarkan oleh syariat.
Islam sangat menganjurkan seorang muslim untuk beristikharah ketika menghadapi perkara yang mubah dan belum jelas mana yang lebih baik baginya. Bahkan Rasulullah ﷺ menjadikan istikharah sebagai salah satu sebab kebahagiaan seorang mukmin.
Beliau bersabda:
مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ اسْتِخَارَتُهُ اللَّهَ، وَمِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ رِضَاهُ بِمَا قَضَى اللَّهُ، وَمِنْ شِقْوَةِ ابْنِ آدَمَ تَرْكُهُ اسْتِخَارَةَ اللَّهِ، وَمِنْ شِقْوَةِ ابْنِ آدَمَ سَخَطُهُ بِمَا قَضَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
”Di antara kebahagiaan anak Adam adalah ia beristikharah kepada Allah, dan termasuk kebahagiaannya pula ia ridha terhadap ketetapan Allah. Sebaliknya, termasuk kesengsaraan anak Adam adalah meninggalkan istikharah kepada Allah, dan termasuk kesengsaraannya pula ia membenci ketetapan Allah.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini mengajarkan bahwa keberhasilan seorang muslim tidak hanya diukur dari hasil yang diperoleh, tetapi juga dari cara ia menyerahkan urusannya kepada Allah. Orang yang selalu beristikharah akan lebih mudah menerima apa pun ketetapan Allah, karena ia yakin bahwa pilihan Allah jauh lebih baik daripada pilihan dirinya sendiri.
Anjuran untuk membiasakan istikharah juga ditegaskan dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah رضي الله عنه. Beliau berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ
”Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kami shalat istikharah dalam setiap urusan sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami satu surat dari Al-Qur’an.”
(HR. al-Bukhari)
Perumpamaan ini menunjukkan betapa besar perhatian Rasulullah ﷺ terhadap amalan istikharah. Beliau mengajarkannya dengan kesungguhan sebagaimana beliau mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an kepada para sahabat, sehingga istikharah menjadi bagian dari pendidikan keimanan seorang muslim.
Hikmah Disyariatkannya Istikharah
Di balik syariat istikharah terdapat hikmah yang sangat mendalam. Seorang hamba pada hakikatnya tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada masa depan. Sesuatu yang tampak menguntungkan bisa jadi justru membawa mudarat, sedangkan sesuatu yang tampak berat bisa jadi merupakan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Oleh karena itu, istikharah mengajarkan seorang muslim untuk menyerahkan pilihan kepada Allah, memohon agar dikumpulkan baginya kebaikan dunia dan akhirat, serta dijauhkan dari segala sesuatu yang akan membahayakan agama maupun kehidupannya.
Tata Cara Shalat Istikharah
Cara yang paling sempurna dalam melaksanakan istikharah adalah sebagaimana yang diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ, yaitu mengerjakan dua rakaat shalat sunnah, kemudian dilanjutkan dengan membaca doa istikharah.
Dalam hadis Jabir رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ لِيَقُلْ…
”Apabila salah seorang di antara kalian berkehendak melakukan suatu urusan, maka hendaklah ia melaksanakan dua rakaat shalat selain shalat fardu, kemudian hendaklah ia berdoa…”
(HR. al-Bukhari)
Setelah selesai shalat, dianjurkan memulai doa dengan memuji Allah, bershalawat kepada Nabi ﷺ, kemudian membaca doa istikharah sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ… خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ
”Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kemampuan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu dari karunia-Mu yang agung. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak berkuasa. Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha Mengetahui segala yang gaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibat urusanku, maka tetapkanlah ia untukku, mudahkanlah ia bagiku, kemudian berkahilah ia untukku. Namun apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan akibat urusanku, maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya. Tetapkanlah bagiku kebaikan di mana pun berada, kemudian jadikanlah aku ridha terhadapnya.”
Amalan yang Menyempurnakan Istikharah
Para fuqaha menyebutkan beberapa adab yang menyempurnakan pelaksanaan shalat istikharah. Di antaranya adalah membaca surat Al-Kafirun pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah, kemudian membaca surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Setelah salam, dianjurkan membaca doa istikharah sebagaimana yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Meskipun bacaan tersebut tidak termasuk syarat sah, para ulama memandangnya sebagai bentuk ittiba’ dan penyempurna pelaksanaan istikharah.
Jangan Mendahului Pilihan Allah
Salah satu adab terpenting dalam istikharah adalah membersihkan hati dari keputusan yang telah bulat sebelum berdoa. Seseorang hendaknya benar-benar menyerahkan urusannya kepada Allah, bukan sekadar meminta agar Allah menguatkan keputusan yang telah ia tentukan sendiri.
Karena itu, setelah beristikharah, seorang muslim dianjurkan melangkah pada pilihan yang Allah mudahkan baginya. Banyak orang mengira bahwa hasil istikharah harus berupa mimpi atau tanda-tanda tertentu. Padahal, para ulama menjelaskan bahwa ukuran keberhasilan istikharah bukanlah mimpi, melainkan taufik dan kemudahan yang Allah bukakan serta ketenangan hati yang Allah anugerahkan setelah seseorang bertawakkal.
Apakah Istikharah Harus dengan Shalat?
Hukum asal istikharah memang dilakukan dengan shalat dua rakaat kemudian berdoa. Akan tetapi, syariat memberikan kemudahan bagi orang-orang yang memiliki uzur sehingga tidak dapat melaksanakan shalat.
Misalnya wanita yang sedang haid atau nifas, orang yang tidak memiliki kemampuan bersuci, atau seseorang yang benar-benar tidak memungkinkan melaksanakan shalat pada saat itu. Dalam keadaan seperti ini, ia tetap dianjurkan beristikharah dengan doa.
Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari berkata dalam Asna al-Mathalib (1/205):
ولو تعذرت عليه الصلاة استخار بالدعاء، وإذا استخار مضى بعدها لما ينشرح له صدره.
”Apabila ia tidak dapat melaksanakan shalat, maka hendaklah ia beristikharah dengan doa. Setelah beristikharah, hendaklah ia melanjutkan kepada perkara yang membuat hatinya menjadi lapang.”
Penjelasan ini menunjukkan keluasan syariat Islam. Meskipun bentuk yang paling utama adalah shalat disertai doa, namun ketika shalat tidak memungkinkan dilakukan, doa istikharah tetap disyariatkan.
Bolehkah Doa Istikharah Diulang?
Tidak terdapat batasan tertentu mengenai berapa kali seseorang boleh mengulang doa istikharah. Bahkan, memperbanyak doa termasuk perkara yang dianjurkan oleh syariat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو، لَيْسَ بِإِثْمٍ وَلَا بِقَطِيعَةِ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا
”Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak memutus silaturahmi, melainkan Allah akan memberikan salah satu dari tiga perkara: Allah segera mengabulkan doanya, atau menyimpannya sebagai pahala di akhirat, atau Allah menghindarkan darinya keburukan yang sebanding dengannya.”
(HR. Ahmad, al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad, dan al-Hakim)
Hadis ini menjadi dalil bahwa seorang muslim boleh memperbanyak doa istikharah hingga hatinya benar-benar mantap dan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah.
Shalat Istikharah merupakan salah satu bentuk ibadah yang menunjukkan kesempurnaan tauhid dan tawakkal seorang hamba. Ia mengajarkan bahwa keterbatasan ilmu manusia harus disandarkan kepada ilmu Allah yang Mahasempurna. Oleh karena itu, setiap kali menghadapi pilihan yang belum jelas maslahatnya, seorang muslim dianjurkan untuk mendirikan dua rakaat shalat istikharah, memanjatkan doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ, lalu melangkah dengan penuh keyakinan kepada keputusan yang Allah mudahkan baginya. Inilah hakikat istikharah yang diajarkan oleh Nabi ﷺ: bukan menunggu isyarat yang luar biasa, tetapi menyerahkan pilihan kepada Allah, berikhtiar dengan sungguh-sungguh, kemudian ridha terhadap apa pun keputusan yang telah Dia tetapkan.
Wallāhu subḥānahu wa ta‘ālā a‘lam
✒️ Madarif Institute
Untuk mendukung dakwah Madarif Institute silahkan berikan infaq terbaik melalui rekening: 7314673349 (BSI) a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA
🎥 Youtube: Madarif Institute
📷 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org
