BULAN SAFAR DALAM TIMBANGAN AL-QUR’AN DAN HADITS; Menepis Mitos Kesialan, Menguatkan Tauhid

Di tengah masyarakat masih berkembang anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan kesialan, bulan penuh musibah, sehingga sebagian orang merasa takut melakukan perjalanan, menikah, membuka usaha, bahkan melakukan berbagai ritual untuk menolak bala.

Pertanyaannya, benarkah keyakinan tersebut berasal dari ajaran Islam?

Asal Usul Nama Safar

Para ulama menjelaskan bahwa nama Safar telah dikenal sejak zaman Arab sebelum Islam. Salah satu pendapat menyebutkan bahwa kata Safar berasal dari shafira (kosong), karena pada bulan ini kampung-kampung Arab menjadi kosong ditinggalkan penduduknya yang pergi berperang setelah berakhirnya bulan Muharram yang termasuk bulan haram.

Nama bulan ini hanyalah penanda waktu, bukan penentu nasib manusia.

Al-Qur’an Menolak Keyakinan Sial karena Waktu

Allah SWT mengabadikan kisah kaum Fir’aun yang menuduh Nabi Musa عليه السلام sebagai penyebab kesialan.

«فَاِذَا جَاۤءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوْا لَنَا هٰذِهٖۚ وَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّطَّيَّرُوْا بِمُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗ…
(QS. Al-A’raf: 131)»

Allah menegaskan bahwa semua yang mereka alami berada dalam ketetapan-Nya, bukan karena Nabi Musa ataupun waktu tertentu.

Begitu pula kaum Nabi Shalih عليه السلام berkata:

«قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَّعَكَ…
(QS. An-Naml: 47)»

Nabi Shalih menjawab bahwa nasib mereka berada di sisi Allah, dan apa yang mereka alami merupakan ujian dari-Nya.

Demikian pula dalam Surah Yasin ayat 18–19, para pendusta rasul menyalahkan para utusan sebagai pembawa sial. Para rasul menjawab bahwa kemalangan mereka berasal dari perbuatan mereka sendiri.

Ketiga kisah ini memberikan pelajaran penting bahwa Islam menolak anggapan adanya kesialan yang melekat pada seseorang, tempat, ataupun waktu tertentu.

Rasulullah ﷺ Membantah Mitos Bulan Safar

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

«لا عَدْوَى ولا طِيَرَةَ، ولا هامَةَ ولا صَفَرَ
(HR. Bukhari dan Muslim)»

“Tidak ada (keyakinan) penularan dengan sendirinya, tidak ada tathayyur (anggapan sial), tidak ada hamah, dan tidak ada (kesialan pada bulan) Safar.”

Hadits ini secara tegas membatalkan keyakinan masyarakat Arab Jahiliah bahwa bulan Safar membawa kesialan.

Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:

«الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)»

“Menganggap sial adalah kesyirikan.”

Mengapa disebut syirik?

Karena seseorang telah menggantungkan keyakinannya kepada selain Allah. Padahal hanya Allah yang menentukan manfaat dan mudarat.

Apa yang Harus Dilakukan Seorang Muslim?

Jika muncul rasa khawatir atau pesimis, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

«اللهم لا خير إلا خيرك، ولا طير إلا طيرك، ولا إله غيرك»

“Ya Allah, tidak ada kebaikan selain kebaikan-Mu, tidak ada pertanda selain ketetapan-Mu, dan tidak ada Tuhan selain Engkau.”

Inilah bentuk tawakal yang benar. Bukan mencari ritual penolak bala, bukan mempercayai hari atau bulan tertentu sebagai pembawa sial.

Mari kita jadikan bulan Safar sebagai momentum untuk:

🌸 Memperkuat tauhid kepada Allah SWT.
🌸 Memperbanyak istighfar, dzikir, tilawah Al-Qur’an, dan shalawat.
🌸 Memperbanyak sedekah dan amal saleh.
🌸 Bertawakal kepada Allah dalam setiap urusan.
🌸 Meninggalkan seluruh bentuk khurafat, tahayul, dan tathayyur yang tidak diajarkan Rasulullah ﷺ.

Kesimpulannya:

✅ Tidak ada satu ayat Al-Qur’an yang menyatakan bulan Safar adalah bulan sial.
✅ Rasulullah ﷺ justru menegaskan bahwa tidak ada kesialan pada bulan Safar.
✅ Meyakini adanya kesialan yang melekat pada waktu tertentu termasuk bentuk tathayyur yang dilarang dalam Islam.
✅ Seorang mukmin meyakini bahwa segala kebaikan dan musibah terjadi atas izin dan ketetapan Allah SWT.

Semoga Allah SWT menjaga aqidah kita, menguatkan tawakal kita, serta menjadikan setiap bulan sebagai bulan yang penuh keberkahan dan kesempatan untuk semakin dekat kepada-Nya.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.