قال الحارث المحاسبي رحمه الله:
مَنْ صَحَّحَ بَاطِنَهُ بِالْمُرَاقَبَةِ وَالْإِخْلَاصِ، زَيَّنَ اللَّهُ ظَاهِرَهُ بِالْمُجَاهَدَةِ وَاتِّبَاعِ السُّنَّةِ.
Al-Harits Al-Muhasibi رحمه الله berkata:
“Barang siapa memperbaiki batinnya dengan selalu merasa diawasi oleh Allah (muraqabah) dan memurnikan niatnya (ikhlas), niscaya Allah akan menghiasi lahiriahnya dengan kesungguhan dalam beramal (mujahadah) dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ.”
PENJELASAN
Al-Harith al-Muhasibi رحمه الله (wafat 243 H) adalah salah seorang imam besar dalam bidang penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Beliau dikenal sangat menekankan bahwa perbaikan seorang hamba selalu dimulai dari hati, bukan dari penampilan. Karena itu beliau berkata:
“Barang siapa memperbaiki batinnya dengan selalu merasa diawasi oleh Allah (muraqabah) dan memurnikan niatnya (ikhlas), niscaya Allah akan menghiasi lahiriahnya dengan kesungguhan dalam beramal (mujahadah) dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ.”
Di zaman sekarang, banyak orang ingin segera terlihat baik di hadapan manusia. Mereka memperbaiki penampilan, memperindah kata-kata, atau mengejar citra sebagai orang saleh. Namun Al-Muhasibi mengajarkan arah yang sebaliknya: mulailah dari hati. Sebab amal yang lahir dari hati yang bersih akan bertahan, sedangkan amal yang hanya mengejar penilaian manusia akan mudah pudar.
Beliau menyebut dua amalan hati: muraqabah dan ikhlas. Muraqabah adalah kesadaran bahwa Allah selalu melihat kita, baik ketika sendirian maupun di tengah manusia. Ikhlas adalah memurnikan seluruh amal hanya untuk mencari ridha-Nya. Jika dua perkara ini tumbuh di dalam hati, Allah akan menolong seorang hamba untuk berjuang melawan hawa nafsunya dan menghiasi hidupnya dengan ittiba’, yaitu mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.
Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-’Ankabut: 69)
Perhatikan, Allah mendahulukan kesungguhan (mujahadah), kemudian menjanjikan petunjuk (hidayah). Ini menunjukkan bahwa hidayah untuk istiqamah bukan hanya hasil dari ilmu, tetapi juga buah dari perjuangan memperbaiki hati dan melawan hawa nafsu setiap hari.
Karena itu, jika hari ini kita merasa berat menjaga shalat, sulit ikhlas, atau belum mampu istiqamah dalam sunnah, jangan hanya memperbaiki amal yang tampak. Periksalah hati kita terlebih dahulu. Sebab ketika akar telah sehat, buahnya pun akan baik.
Hati yang dipenuhi muraqabah akan melahirkan keikhlasan. Keikhlasan akan melahirkan kesungguhan. Kesungguhan akan mengantarkan kepada hidayah. Dan hidayah akan menghiasi kehidupan seorang hamba dengan akhlak yang mulia serta sunnah Rasulullah ﷺ. Itulah jalan perbaikan yang diajarkan oleh para ulama salaf: memperbaiki yang tersembunyi, lalu Allah akan memperindah yang tampak.
📚 Al Mawaidz (287)
✒️ Madarif Institute
🎥 Youtube: Madarif Institute
📸 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org
Dukung dakwah dan karya Madarif Institute:
BSI 7314673349 a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA
