(Tafsir Surat Āli ‘Imran:97)
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ
مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
Artinya: “Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi yang mampu…”
Ayat ini dengan sangat tegas menunjukkan bahwa ibadah haji adalah kewajiban besar dalam Islam bagi setiap muslim yang memiliki kemampuan. Para ulama, di antaranya Ibnu Katsir, (wafat 774 H) menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dalil kuat atas wajibnya haji, dan kaum muslimin telah bersepakat (ijma’) bahwa:
Haji adalah rukun Islam,
wajib sekali seumur hidup bagi yang mampu,
berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan ijma’
Rasulullah ﷺ juga menegaskan hal ini dalam sabdanya ketika beliau berseru kepada para sahabat agar menunaikan haji
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Wahai manusia, sungguh Allah telah mewajibkan atas kalian haji, maka berhajilah kalian.”
Lalu seseorang bertanya:
“Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?”
Nabi ﷺ diam, hingga pertanyaan itu diulang tiga kali, lalu beliau bersabda:
“Seandainya aku katakan ‘ya’, niscaya akan menjadi wajib (setiap tahun), dan kalian tidak akan mampu.
Dan Rasulullaah ﷺ menegaskan
Dari Ibnu Abbas:
“Haji itu sekali.
Siapa yang menambah, maka itu sunnah.”
Dari ayat ini, kita belajar bahwa kewajiban haji terkait erat dengan kemampuan.
Maka seorang muslim hendaknya mulai mempersiapkan diri sejak dini,
baik dengan menabung,
menjaga kesehatan,
maupun membekali diri dengan ilmu tentang manasik haji.
Ketika Allah telah memberikan kelapangan rezeki dan kemampuan, tidak selayaknya seseorang menunda-nunda kewajiban ini.
Karena haji bukan sekadar perjalanan, tetapi panggilan mulia sebagai tamu Allah di Baitullah.
Di sisi lain, ayat ini juga mengajarkan tentang keikhlasan dan kesungguhan dalam beribadah.
Haji bukan untuk gelar atau kebanggaan di hadapan manusia, tetapi sebagai bentuk penghambaan total kepada Allah.
Bahkan sebelum seseorang berangkat haji, ia sudah bisa mengambil pelajaran besar dari ibadah ini dengan :
melatih kesabaran
memperbaiki akhlak
memperbanyak ketaatan
dan belajar melepaskan kecintaan terhadap dunia demi meraih ridha Allah.
Maka, barang siapa yang telah mampu, hendaklah ia bersegera memenuhi panggilan ini.
Dan bagi yang belum mampu, hendaklah ia bersungguh-sungguh mempersiapkan diri serta berdoa agar Allah memudahkan jalannya.
Karena pada hakikatnya, haji bukan hanya tentang perjalanan fisik menuju Makkah, tetapi perjalanan hati menuju kedekatan dengan Allah.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dimampukan untuk menunaikan ibadah haji, dan menerima setiap amal kebaikan yang kita lakukan dengan penuh keikhlasan. 🤲
📚 Disarikan dari kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Adzhim
✒️ Madarif Institute
Untuk mendukung dakwah Madarif Institute, silakan berikan infaq terbaik melalui rekening: 7314673349 (BSI) a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA
🎥 Youtube: Madarif Institute
📷 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org
