28 April 2026 – Seorang anak Palestina berusia 12 tahun, Thaer Hamayel, menceritakan pengalaman pahitnya setelah ditangkap oleh pasukan penjajah Israel pada dini hari 14 April lalu. Penangkapan itu menjadi awal dari serangkaian pemindahan dan interogasi yang ia sebut berlangsung dalam kondisi sangat keras.
Thaer mengatakan ia ditangkap saat fajar, lalu dibawa ke kamp militer dekat desanya dan dibiarkan di luar ruangan dalam udara dingin selama sekitar satu jam. Setelah itu, ia dipindahkan ke kamp lain dan ditahan di ruangan sempit bersama seorang tahanan lain selama berjam-jam.
Perjalanan berlanjut ke pusat interogasi, di mana ia mengaku mengalami pemukulan dan perlakuan kasar, termasuk dicekik saat diperiksa. Ia dituduh terkait dengan kelompok tertentu dan terus diborgol sepanjang proses tersebut.
Setelah itu, Thaer dipindahkan ke Penjara Ofer di dekat Ramallah. Dalam perjalanan, ia kembali mengalami perlakuan buruk, dengan tangan tetap diborgol erat hingga menimbulkan rasa sakit.
Di dalam penjara, kondisi yang ia hadapi juga tidak kalah berat. Ia mengaku makanan terbatas, perlakuan keras, bahkan dipaksa melakukan tindakan yang merendahkan. Setiap hari, alas tidur mereka diambil sejak pagi hingga siang, tanpa mempertimbangkan usia para tahanan yang masih anak-anak.
Data menunjukkan, ribuan warga Palestina saat ini ditahan di penjara penjajah, termasuk ratusan anak-anak. Mereka menghadapi kondisi sulit, mulai dari kekurangan makanan hingga minimnya layanan kesehatan, dalam situasi yang terus memburuk.
โ๏ธ Madarif Institute. – Al Jazeera.
๐ฅ Youtube: Madarif Institute
๐ธ Instagram: @madarifinstitute
๐ Web: madarifinstitute.org
Dukung dakwah dan karya Madarif Institute:
BSI 7314673349 a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA
