قال الأحنفُ بنُ قيسٍ رحمه الله:
لَا مُرُوءَةَ لِكَذُوبٍ، وَلَا رَاحَةَ لِحَسُودٍ، وَلَا حِيلَةَ لِبَخِيلٍ، وَلَا سُؤْدَدَ لِسَيِّئِ الْخُلُقِ، وَلَا إِخَاءَ لِمَلُولٍ.
Al-Ahnaf bin Qais رحمه الله berkata:
“Tidak ada kehormatan bagi pendusta, tidak ada ketenangan bagi orang yang dengki, tidak ada jalan keluar bagi orang yang kikir, tidak ada kemuliaan bagi orang yang buruk akhlaknya, dan tidak ada persahabatan bagi orang yang mudah bosan.”
PENJELASAN
Al-Ahnaf bin Qais رحمه الله adalah seorang tabi’in yang terkenal karena kecerdasan, kesabaran, dan kebijaksanaannya. Kata-katanya singkat, tetapi seolah membuka cermin agar manusia melihat penyakit dalam dirinya sendiri.
Sering kali kita mengira masalah hidup datang dari luar. Kita menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, menyalahkan takdir. Padahal terkadang yang membuat hidup berat justru sifat buruk yang kita pelihara sendiri.
Beliau memulai dengan dusta. Pendusta mungkin sesaat terlihat selamat, tetapi lambat laun ia kehilangan kehormatan. Sekali orang meragukan kejujurannya, maka kepercayaan pun runtuh. Dan ketika kepercayaan hilang, sesuatu yang sangat mahal telah hilang dari hidupnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ… وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ
“Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan… dan dusta menuntun kepada kejahatan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Lalu beliau menyebut dengki. Orang yang dengki jarang tenang. Ia lelah melihat nikmat orang lain. Hatinya sibuk membandingkan, gelisah dengan keberhasilan orang, sedih melihat kebahagiaan sesama. Padahal nikmat orang lain tidak mengurangi rezekinya sedikit pun.
Dengki adalah penjara yang dibuat hati untuk dirinya sendiri.
Kemudian sifat kikir. Orang yang kikir terlihat sedang menjaga hartanya, padahal sering kali ia sedang menutup pintu keluasan hidupnya. Tangan yang terlalu menggenggam sulit menerima keberkahan.
Allah berfirman:
وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Barang siapa dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Hasyr: 9)
Lalu buruk akhlak. Seseorang bisa memiliki jabatan, ilmu, atau harta, tetapi jika lisannya menyakiti, wajahnya merendahkan, dan sikapnya kasar, maka kemuliaannya jatuh. Karena manusia mencintai akhlak yang baik, dan menjauh dari akhlak yang buruk.
Terakhir, orang yang mudah bosan dalam persahabatan. Sedikit masalah ia pergi. Sedikit kecewa ia menjauh. Sedikit jenuh ia meninggalkan. Orang seperti ini sulit memiliki hubungan yang kokoh, karena persaudaraan membutuhkan kesabaran, kesetiaan, dan kemampuan bertahan.
Nasihat ini sebenarnya mengajak kita untuk berhenti sibuk menilai orang lain, lalu mulai menilai diri sendiri.
Mungkin hidup terasa berat bukan karena dunia terlalu keras, tetapi karena ada sifat dalam diri yang belum kita perbaiki.
Mungkin hati terasa sempit bukan karena rezeki kurang, tetapi karena dengki belum dicabut.
Mungkin hubungan rusak bukan karena semua orang salah, tetapi karena akhlak kita belum halus.
Maka mulailah dari satu langkah kecil. Jujurlah meski sulit. Doakan orang lain saat hati mulai iri. Biasakan memberi walau sedikit. Lembutkan ucapan. Belajar setia dalam hubungan.
Perubahan besar sering dimulai dari keberanian mengalahkan satu sifat buruk dalam diri.
Dan kemenangan terbesar bukan ketika kita mengalahkan orang lain, tetapi ketika kita mampu memperbaiki diri sendiri.
📚 Shifah Ash-Shafwah (3/199)
✒️ Madarif Institute
Untuk mendukung dakwah Madarif Institute silahkan berikan infaq terbaik melalui rekening: 7314673349 (BSI) a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA
🎥 Youtube: Madarif Institute
📷 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org
