Israel Mengebom Rumah Keluarga Ghabboun Pada Kamis Malam

Jumat 10 Oktober 2025 —Di tengah masa tenang yang seharusnya menjadi awal dari gencatan senjata antara Israel dan Hamas, Gaza kembali dikejutkan oleh ledakan besar pada Kamis malam. Serangan udara yang dilancarkan oleh militer Israel menghantam sebuah rumah milik keluarga Ghabboun di kawasan Hayy Shabra, Kota Gaza, hanya beberapa jam sebelum perjanjian penghentian perang dijadwalkan diumumkan.

Menurut laporan Pertahanan Sipil Palestina, lebih dari 40 orang diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan di Jalan Tsalatsini, sementara empat korban telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Tim penyelamat masih terus berusaha mengevakuasi korban di tengah kondisi yang digambarkan “sangat sulit dan berbahaya.”

Peristiwa ini terjadi menjelang pengesahan tahap pertama rencana gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Kamis dini hari. Sumber-sumber militer Israel mengakui bahwa serangan tersebut dilakukan oleh pasukan Brigade Golani, dengan persetujuan Kepala Staf Eyal Zamir, mereka mengklaim rumah yang diserang digunakan untuk “aktivitas militer Hamas.”

Namun, pernyataan itu segera dibantah oleh Gerakan Perlawanan Islam (Hamas). Dalam keterangan resminya yang diterima Pusat Informasi Palestina, Hamas mengecam keras pembantaian yang menewaskan puluhan warga sipil tak bersenjata itu. Mereka menyebut serangan tersebut sebagai “kejahatan brutal baru” yang dilakukan pemerintah Benjamin Netanyahu untuk mengacaukan situasi dan menggagalkan pelaksanaan perjanjian gencatan senjata.

“Pembantaian mengerikan di barat Kota Gaza menunjukkan wajah asli rezim penjajah yang haus darah,” ujar Hamas dalam pernyataannya. “Kejahatan ini membuktikan tekad pemerintahan fasis Netanyahu untuk melanjutkan pembunuhan dan pemusnahan hingga detik terakhir.”

Hamas juga menyerukan kepada para mediator dan pemerintahan Amerika Serikat agar segera memikul tanggung jawab moral dan politik atas kejahatan tersebut. Mereka meminta adanya intervensi segera untuk menghentikan serangan yang menargetkan anak-anak dan warga sipil tak bersenjata.

Serangan Kamis malam itu menambah panjang daftar tragedi kemanusiaan di Gaza. Sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, lebih dari 67 ribu warga Palestina telah gugur dan hampir 170 ribu lainnya terluka, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

Bagi banyak warga Gaza, gencatan senjata yang dijanjikan kini terasa rapuh. Di tengah harapan akan berakhirnya perang, serangan ini justru menghidupkan kembali ketakutan lama: bahwa bagi rakyat Palestina, bahkan “masa tenang” sekalipun bisa berubah menjadi malam pembantaian.

✒️ Madarif Institute. – Al Jazeera, Palestine Information Center, Eye on Palestine.
🎥 Youtube: Madarif Institute
📸 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org

Dukung dakwah dan karya Madarif Institute:
BSI 7314673349 a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA