9 Oktober 2025 — Setelah dua tahun perang yang menelan lebih dari 67 ribu korban jiwa dan meluluhlantakkan Jalur Gaza, dini hari Kamis ini menandai berakhirnya perang terpanjang dan paling mematikan di kawasan tersebut. Israel dan Hamas secara resmi menyetujui tahap pertama Rencana 20 Poin Perdamaian Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mencakup gencatan senjata, penarikan pasukan Israel, serta pertukaran tahanan dan sandera.
Dalam pernyataannya di Washington, Presiden Donald Trump menyebut kesepakatan ini sebagai “hari besar bagi dunia Arab, Islam, Israel, dan Amerika Serikat.” Ia mengumumkan bahwa kedua belah pihak telah menandatangani tahap pertama rencana tersebut, yang mencakup pembebasan semua sandera, hidup maupun gugur, serta penarikan pasukan Israel ke garis kuning di dalam Gaza. Trump juga menyampaikan bahwa proses pembebasan tawanan akan dimulai pada hari Senin mendatang, bersamaan dengan dimulainya fase penarikan pasukan. Ia menambahkan niatnya mengunjungi Mesir dalam beberapa hari ke depan, dan berpidato di Knesset Israel atas undangan langsung dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Netanyahu mengatakan bahwa pemerintah Israel akan menggelar sidang kabinet pada Kamis malam untuk mengesahkan kesepakatan tersebut. Ia menegaskan bahwa tujuan utama Israel adalah mengembalikan keamanan bagi warganya sekaligus membuka peluang stabilitas regional. “Kami menghargai upaya para mediator dan menyambut langkah ini sebagai awal menuju masa depan yang lebih aman bagi seluruh kawasan,” ujar Netanyahu.
Dari pihak Hamas, anggota biro politiknya Izzat ar-Rishq menegaskan bahwa penghentian perang ini adalah hasil dari pengorbanan besar rakyat Palestina dan keteguhan para pejuang perlawanan. Ia menambahkan bahwa kesepakatan ini lahir dari “tanggung jawab sejarah kami terhadap rakyat yang telah menderita,” serta menjadi “komitmen untuk melindungi nyawa warga Gaza dan memulai langkah menuju stabilitas dan kemerdekaan sejati.”
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan bahwa para mediator dari Qatar, Mesir, dan Turki telah berhasil menuntaskan seluruh butir kesepakatan tahap pertama. Juru bicara kementerian, Majed al-Ansari, menyebut bahwa semua pihak telah menyepakati mekanisme pelaksanaan gencatan senjata, dan rincian teknis akan diumumkan secara bertahap. “Kami berharap seluruh pihak menghormati komitmen ini sepenuhnya,” ujarnya.
Dari pihak Israel, seorang pejabat keamanan menyebut bahwa pasukan akan segera menarik diri dari wilayah Gaza menuju garis yang telah disepakati setelah keputusan kabinet dikeluarkan. Langkah ini akan menjadi fase awal penegakan gencatan senjata di lapangan.
Di sisi lain, suasana euforia melanda Gaza sejak fajar menyingsing. Ribuan warga turun ke jalan di Kota Gaza, Deir al-Balah, dan Khan Younis, membawa bendera Palestina dan meneriakkan takbir serta nyanyian kemenangan. Banyak warga berkumpul di depan Rumah Sakit Syuhada al-Aqsha untuk mengekspresikan rasa syukur setelah dua tahun terjebak di tengah penderitaan perang dan blokade.
Namun, di tengah kegembiraan itu, pemerintah lokal Gaza menyerukan agar warga tetap waspada. Dalam pernyataan resminya, Kantor Media Pemerintah Gaza meminta warga tidak melakukan perjalanan di jalan utama Rashid dan Salahuddin sampai ada pengumuman resmi dari otoritas keamanan Palestina. “Kami menegaskan bahwa keselamatan warga adalah prioritas nasional. Kepatuhan terhadap instruksi resmi menjadi benteng keselamatan kita di masa genting ini,” demikian isi pernyataan tersebut.
Gencatan senjata hari ini menjadi momen bersejarah bagi dua juta penduduk Gaza yang telah hidup di bawah bayang-bayang perang, kelaparan, dan kehilangan. Meski jalan menuju perdamaian masih panjang, kesepakatan ini menyalakan kembali harapan akan masa depan yang lebih aman, bermartabat, dan bebas bagi rakyat Palestina.
✒️ Madarif Institute. – Al Jazeera, Palestine Information Center, Eye on Palestine.
🎥 Youtube: Madarif Institute
📸 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org
Dukung dakwah dan karya Madarif Institute:
BSI 7314673349 a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA
