قال كعبُ الأحبارِ رحمه الله:
إِذَا اشْتَكَى إِلَى اللَّهِ عِبَادُهُ الْفُقَرَاءُ الْحَاجَةَ، قِيلَ لَهُمْ: أَبْشِرُوا وَلَا تَحْزَنُوا، فَإِنَّكُمْ سَادَةُ الْأَغْنِيَاءِ، وَالسَّابِقُونَ إِلَى الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Ka‘b Al-Ahbar رحمه الله berkata:
“Apabila hamba-hamba Allah yang fakir mengadukan kebutuhan mereka kepada Allah, maka Allah berkata kepada mereka: ‘Bergembiralah dan jangan bersedih. Sesungguhnya kalian lebih mulia dibanding orang-orang kaya, dan kalian akan menjadi orang-orang yang lebih dahulu masuk surga pada hari kiamat.’”
PENJELASAN
Ka‘b Al-Ahbar رحمه الله adalah seorang tabi’in yang berasal dari Yaman. Nama lengkapnya Ka‘b bin Mati‘. Pada awalnya ia beragama Yahudi, kemudian masuk Islam pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab رضي الله عنه. Setelah itu, ia tinggal di Madinah dan dikenal sebagai seorang yang banyak meriwayatkan kisah-kisah dari umat terdahulu. Ia ikut berjihad di wilayah Syam dan wafat disana sekitar tahun 652 M pada akhir masa ke khalifahan Uthman ibn Affan رضي الله عنه.
Ucapan ini menenangkan hati orang-orang yang hidup dalam keterbatasan. Ketika kebutuhan terasa sempit, rezeki tidak lapang, dan hidup penuh kekurangan, seseorang mudah merasa rendah dan tertinggal dibandingkan orang-orang yang hidup dalam kelapangan. Namun nasihat ini justru membalik cara pandang itu.
Orang yang fakir, ketika ia mengadukan keadaannya kepada Allah dengan penuh harap dan kesabaran, sejatinya sedang berada dalam posisi yang sangat dekat dengan-Nya. Ia bergantung penuh kepada Allah, tidak memiliki banyak sandaran selain-Nya. Dari situlah lahir keikhlasan, ketundukan, dan doa yang jujur dari hati.
Sementara orang yang memiliki banyak harta seringkali disibukkan dengan urusan dunia, bahkan harus mempertanggungjawabkan hartanya dengan hisab yang lebih panjang. Di sinilah letak kemuliaan orang yang sabar dalam kefakiran. Mereka lebih ringan bebannya di akhirat dan lebih cepat melangkah menuju surga.
Bukan berarti kemiskinan itu dicari atau kemuliaan hanya ada pada kekurangan. Tetapi yang dimaksud adalah sikap hati. Ketika kekurangan dihadapi dengan sabar dan terus bergantung kepada Allah, maka ia berubah menjadi jalan menuju kemuliaan.
Nasihat ini ingin menguatkan bahwa ukuran kemuliaan bukan pada banyaknya harta, tetapi pada kedekatan dengan Allah dan bagaimana seseorang menjalani keadaannya. Bisa jadi yang di dunia terlihat lemah, justru di akhirat menjadi orang yang lebih dahulu meraih kemenangan.
📚 Al Mawaidz jilid 10 halaman 366
✒️ Madarif Institute
🎥 Youtube: Madarif Institute
📸 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org
Dukung dakwah dan karya Madarif Institute:
BSI 7314673349 a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA
