Memasuki bulan Sya’ban, rasanya udara Ramadan juga mulai terasa. Bahkan, tak jarang kita jumpai unggahan hitung mundur menuju Ramadan di sosial media. Namun, daripada kita sibuk menghitung sisa hari menuju bulan Ramadan, ada baiknya kita berhenti sejenak dan mulai merefleksikan keagungan bulan yang sedang kita jalani saat ini.
Untuk itu, penting bagi kita mengetahui beberapa keistimewaan dan peristiwa yang terjadi di bulan ini.
Bulan Memperbanyak Puasa Sunnah
Jika Ramadan adalah ‘bulan puasa wajib’, maka Sya’ban adalah ‘bulan puasa sunnah’, karena pada bulan Sya’ban kita disunnahkan untuk memperbanyak puasa sunnah. Lantas, apa alasan dan hikmah di balik anjuran memperbanyak puasa di bulan ini?
Di dalam hadits Rasulullah bersabda:
“Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR. Abu Daud)
Sayyidah Aisyah ra. Juga pernah menegaskan, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunnah lebih banyak melebihi di bulan Sya’ban.
Selain itu, anjuran memperbanyak puasa di bulan Sya’ban juga bisa menjadi sarana persiapan sebelum menjalani puasa penuh di bulan Ramadan. Dengan membiasakan diri berpuasa sejak Sya’ban, kita dapat memasuki Ramadan dengan keadaan yang jauh lebih siap.
Bulan Memperbanyak Baca Al-Qur’an
Bulan Sya’ban oleh para ulama dikenal dengan sebutan Syahrul Qur’an (bulan Al-Qur’an), sebab kaum muslim dahulu biasa menyibukkan diri dengan membaca Al-Qur’an saat memasuki bulan ini.
Di dalam kitab Māżā fī Sya’bān dijelaskan bahwa pada dasarnya membaca Al-Qur’an dianjurkan di setiap waktu, akan tetapi lebih dianjurkan lagi pada waktu-waktu yang mulia dan penuh keberkahan, seperti bulan Ramadan dan Sya’ban, ketika di kota Makkah, di Raudhah, atau di musim-musim lainnya yang memiliki keutamaan.
Bulan Berpindahnya Kiblat
Bulan Sya’ban juga mencatat peristiwa penting dalam sejarah Islam, yakni berpindahnya kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka‘bah, setelah sebelumnya, Nabi Muhammad ﷺ kerap menengadahkan wajah ke langit, berharap kepada Allah agar kiblat diarahkan ke Ka‘bah.
Harapan tersebut kemudian dijawab oleh Allah SWT sebagaimana firman-Nya:
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَاۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗۗ َ
“Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu.” (Al-Baqarah: 144)
Bulan Turunnya Perintah Shalawat
Selain bulan turunnya ayat tentang pepindahan kiblat, Sya’ban juga menjadi bulan turunnya ayat perintah shalawat kepada Nabi. Allah SWT Berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓىِٕكَتَهٗ یُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِیِّ ؕ یٰۤاَیُّهَا الَّذِیْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَیْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِیْمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)
Dengan demikian, bulan Sya’ban merupakan momentum yang tepat untuk memperbanyak puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, berselawat, serta meningkatkan ibadah-ibadah lainnya.
Wallāhu subḥānahu wa ta‘ālā a‘lam
Kolomnis: M. Rifky Handadari
✒️ Madarif Institute
Untuk mensupport dakwah Madarif Institute silahkan berikan infaq terbaik melalui rekening: 7314673349 (BSI) a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA
🎥 Youtube: Madarif Institute
📷 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org
