اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”
Menurut Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur’an al-Adzhim (774 H), kalimat إيّاك نعبد adalah pernyataan tauhid uluhiyyah, yaitu pengakuan bahwa seluruh ibadah baik yang tampak maupun yang tersembunyi di hati hanya ditujukan kepada Allah. Ibadah di sini mencakup cinta, takut, harap, serta sikap tunduk dan patuh sepenuhnya kepada-Nya. Penempatan kata إيّاك di awal kalimat menunjukkan penegasan dan pembatasan, sehingga maknanya jelas: “Kami tidak menyembah selain Engkau.” Dengan demikian, ayat ini menegaskan tauhid dalam ibadah sekaligus menolak segala bentuk syirik.
Sementara itu, Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb (606 H) memandang kalimat ini lebih luas dan mendalam. Menurutnya, na‘budu tidak hanya mencakup ibadah lahiriah seperti salat, puasa, atau zakat, tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan seorang hamba, termasuk niat, ikhlas, akhlak, dan pengendalian hawa nafsu. Dengan kata lain, hidup seorang hamba diarahkan sepenuhnya kepada Allah, sehingga segala aktivitas bisa menjadi sarana ibadah.
Sedangkan untuk وإيّاك نستعين, Ibn Kathir menjelaskan bahwa ini merupakan pengakuan bahwa manusia tidak memiliki kekuatan tanpa pertolongan Allah. Jika na‘budu menegaskan ibadah hanya untuk Allah, maka nasta‘in menekankan bahwa ibadah itu sendiri tidak akan sempurna tanpa bantuan-Nya. Ayat ini mengingatkan manusia agar tidak merasa mampu sendiri dan menumbuhkan sikap tawakal serta harap hanya kepada Allah.
Fakhruddin al-Razi menambahkan bahwa nasta‘in menunjukkan kesadaran akan keterbatasan manusia dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Tanpa pertolongan dan taufiq-Nya, manusia tidak akan mampu menjaga hati, mengendalikan hawa nafsu, atau menunaikan ibadah dengan benar.
Dengan demikian, ayat إيّاك نعبد وإيّاك نستعين menyampaikan dua prinsip utama yang saling melengkapi:
- Komitmen penuh seorang hamba untuk beribadah dan taat hanya kepada Allah.
- Kedua, kesadaran bahwa seluruh ibadah dan ketaatan hanya bisa terlaksana dengan pertolongan-Nya. Ibn Kathir menekankan ayat ini sebagai inti agama tauhid ibadah dan permohonan pertolongan sementara Fakhruddin al-Razi menyoroti cakupan yang lebih luas, termasuk seluruh aspek lahir dan batin, serta pentingnya taufiq Allah agar manusia mampu melaksanakannya.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika para ulama menilai ayat ini sebagai rahasia terdalam Al-Fatihah, bahkan sebagai inti Al-Qur’an, yang menjadi pedoman bagi setiap muslim untuk menjalani hidup dengan ibadah yang sempurna dan tawakal yang kokoh.
Wallahu subhanahu wa ta‘ala a‘lam
Kolomnis: Mahdiyah Tsamarani
📚 Disarikan dari kitab Tafsir Mafatihul Ghaib dan Al-Qur’an Al-Adzhim
✒️ Madarif Institute
Untuk mendukung dakwah Madarif Institute, silakan berikan infaq terbaik melalui rekening: 7314673349 (BSI) a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA
🎥 Youtube: Madarif Institute
📷 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org
