قالَ مَيْمُونُ بنُ مِهْرَانَ رَحِمَهُ اللَّهُ:
لَا تُمارِ عالِمًا وَلَا جاهِلًا؛ فَإِنَّكَ إِنْ مارَيْتَ عالِمًا خَزَنَ عَنْكَ عِلْمَهُ، وَإِنْ مارَيْتَ جاهِلًا خَشُنَ بِصَدْرِكَ.
Maimun bin Mihran رَحِمَهُ اللَّهُ berkata:
“Janganlah engkau berdebat dengan orang berilmu, dan jangan pula dengan orang bodoh.
Sebab, jika engkau berdebat dengan orang berilmu, ia akan menahan ilmunya darimu dan jika engkau berdebat dengan orang bodoh, hatimu akan menjadi keras.”
PENJELASAN
Perkataan ini adalah mutiara hikmah yang mengajarkan bagaimana menjaga hati dan adab dalam menuntut ilmu serta berinteraksi dengan manusia.
- 1. “Jangan berdebat dengan orang berilmu”
Yang dimaksud bukan melarang bertanya atau berdiskusi dengan ulama, tetapi melarang “mumārah” — yaitu perdebatan yang tujuannya bukan mencari kebenaran, melainkan menunjukkan kehebatan, membantah, atau menjatuhkan lawan bicara. Jika seseorang berdebat dengan niat seperti itu kepada orang alim, maka orang alim tersebut akan menyimpan ilmunya, karena ia tahu bahwa lawan bicaranya tidak siap menerima kebenaran. Sebab ilmu bukan sekadar kata-kata, tetapi cahaya yang Allah letakkan di hati orang yang tunduk dan rendah hati. Ketika kesombongan hadir dalam debat, maka cahaya itu padam, dan orang berilmu tidak akan membukakannya kepada hati yang tertutup.
Maka, siapa yang ingin mendapatkan manfaat dari orang berilmu, hendaklah datang dengan adab, bukan dengan argumen; dengan kerendahan hati, bukan dengan kebanggaan diri.
- 2. “Dan jangan berdebat dengan orang bodoh”
Berdebat dengan orang yang belum mengerti hakikat ilmu atau kebenaran hanya akan membuat hati menjadi keras dan gelap. Karena orang bodoh tidak mendengar untuk memahami, tetapi mendengar untuk membantah. Ia berbicara tanpa dasar, dan membantah tanpa ilmu. Akhirnya, orang yang berdebat dengannya tidak mendapat tambahan ilmu, hanya lelah, marah, dan sempit dada. Ibnu ‘Abbas pernah berkata:
“Tidaklah aku berdebat dengan orang berilmu kecuali aku berharap dia menang, dan tidaklah aku berdebat dengan orang bodoh kecuali aku menyesal.”
Maka, berdebat dengan orang bodoh ibarat menuangkan air ke wadah yang pecah — sia-sia, dan hanya membuat tanganmu lelah.
- 3. Hikmah Umum dari Ucapan Ini
Nasihat Maimun bin Mihran mengajarkan bahwa ilmu tidak akan tumbuh dalam suasana pertengkaran, dan hati tidak akan lembut bila dibiarkan tenggelam dalam perdebatan. Orang yang mencari kebenaran sejati tidak beradu kata, tapi berusaha memahami. Orang yang mencintai ilmu tidak meninggikan suara, tapi merendahkan ego.
Oleh karena itu, jika ingin berilmu dan beradab, jangan menjadi orang yang selalu ingin menang dalam perbincangan, tetapi jadilah orang yang ingin belajar dan memperbaiki diri. Karena yang mencari kemenangan akan kehilangan hikmah, sedangkan yang mencari hikmah akan menang di hadapan Allah.
📚 Min Mawaidz al Anbiyaa wa ash Shohabah wa at Tabi’iin
✒️ Madarif Institute
🎥 Youtube: Madarif Institute
📸 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org
Dukung dakwah dan karya Madarif Institute:
BSI 7314673349 a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA
