08 Oktober 2025
Dua tahun telah berlalu sejak terjadinya Badai Al-Aqsha pada 7 Oktober 2023 — sebuah peristiwa yang mengubah arah perjuangan rakyat Palestina dan mengguncang tatanan politik dunia. Serangan besar yang dilancarkan kelompok perlawanan itu menjadi momentum penting dalam menentang penjajahan Israel, sekaligus menandai babak baru perjuangan menuju kebebasan.
Perlawanan yang Mengubah Arah Sejarah
Bagi kelompok pejuang Palestina, terutama sayap militer Brigade Al-Quds, Badai Al-Aqsha bukan sekadar operasi militer. Aksi itu menjadi titik balik yang mempertegas bahwa rakyat Palestina tidak akan pernah berhenti melawan penjajahan. Serangan tersebut menimbulkan kerugian besar di pihak militer Israel, menawan sejumlah tentaranya, dan memperlihatkan keberanian luar biasa para pejuang yang rela berkorban demi tanah air.
Brigade Al-Quds menyebut peristiwa itu sebagai momen yang mengubah arah perjuangan. Mereka menegaskan bahwa konfrontasi dengan Israel tidak berhenti sejak hari itu, dan selama penjajahan masih ada, perlawanan akan terus berlanjut.
Citra Israel Runtuh di Mata Dunia
Pasca Badai Al-Aqsha, citra Israel yang selama ini dianggap sebagai negara dengan keamanan tak tertandingi mulai runtuh. Serangan itu mengguncang kepercayaan publik Israel terhadap pemerintah dan menyingkap kerentanan yang selama ini tertutup narasi kekuatan militer.
Lebih dari itu, reaksi brutal Israel terhadap Gaza — dengan serangan udara dan darat yang menewaskan ribuan warga sipil — memicu gelombang kecaman global. Dunia mulai menyoroti dugaan pelanggaran hukum perang dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan terhadap rakyat Palestina.
Tujuan Strategis dan Dampak Politik
Menurut pernyataan resmi kelompok perlawanan, tujuan utama Badai Al-Aqsha bukan sekadar membalas dendam, tetapi menggugah kesadaran dunia bahwa penjajahan tidak bisa dibiarkan terus berlangsung. Serangan itu juga dimaksudkan untuk menghentikan proses normalisasi hubungan antara negara-negara Arab dengan Israel serta menantang klaim dominasi militer yang selama ini menjadi tameng politik Tel Aviv.
Kini, dua tahun setelahnya, dampak politik dari peristiwa itu semakin terasa. Delegasi Hamas yang dipimpin Khalil al-Hayya telah tiba di Mesir untuk mengikuti perundingan serius mengenai penghentian perang, pertukaran tawanan, dan penarikan pasukan Israel dari Gaza. Al-Hayya menegaskan bahwa Hamas datang dengan tanggung jawab penuh untuk mencari solusi damai yang adil dan permanen, meskipun agresi Israel masih berlanjut.
Gelombang Solidaritas Dunia
Dari Timur hingga Barat, Badai Al-Aqsha telah memicu kebangkitan solidaritas global. Ribuan orang turun ke jalan di berbagai negara seperti Inggris, Turki, Belanda, Australia, Jepang, Korea Selatan, India, Pakistan, Afghanistan, Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Mereka menyerukan dihentikannya pembantaian di Gaza dan menuntut keadilan bagi rakyat Palestina.
Dukungan juga datang dari kalangan akademisi, seniman, dan tokoh masyarakat dunia. Suara-suara itu menegaskan bahwa perjuangan Palestina bukan hanya isu politik regional, melainkan perjuangan kemanusiaan yang menyentuh nurani umat manusia.
Tekanan Hukum terhadap Negara Pendukung Israel
Tekanan terhadap negara-negara Barat yang mendukung Israel kini semakin kuat. Di Italia, Perdana Menteri Giorgia Meloni bersama dua menterinya menghadapi gugatan di Mahkamah Pidana Internasional atas tuduhan bersekongkol dalam kejahatan genosida di Gaza. Gugatan itu diajukan oleh organisasi Lawyers and Jurists for Palestine dan ditandatangani oleh puluhan akademisi serta pengacara internasional.
Meski Meloni membantah tuduhan tersebut, langkah hukum ini menjadi sinyal bahwa dukungan politik dan militer terhadap Israel tidak lagi bisa dilepaskan dari tanggung jawab moral dan hukum internasional.
Simbol Perlawanan yang Tak Padam
Dua tahun setelah Badai Al-Aqsha, rakyat Palestina masih hidup di bawah bayang-bayang blokade dan serangan. Namun semangat mereka tidak surut. Bagi mereka, 7 Oktober bukan sekadar tanggal bersejarah, tetapi simbol keberanian, kesadaran, dan tekad untuk meraih kebebasan.
Dari Gaza hingga Roma, dari Kairo hingga Jakarta, gema Badai Al-Aqsha terus bergema. Ia bukan hanya kisah perlawanan bersenjata, tetapi kisah manusia yang menolak tunduk pada ketidakadilan — sebuah badai yang membuka mata dunia bahwa perjuangan untuk kemerdekaan Palestina belum berakhir.
✒️ Madarif Institute. – Al Jazeera, Palestine Information Center, Eye on Palestine.
🎥 Youtube: Madarif Institute
📸 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org
Dukung dakwah dan karya Madarif Institute:
BSI 7314673349 a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA
