Perundingan di Mesir Bangkitkan Harapan Perdamaian Gaza di Tengah Serangan dan Krisis Kemanusiaan

06 Oktober 2025

Harapan baru untuk mengakhiri perang panjang di Gaza muncul setelah delegasi Hamas, yang dipimpin Khalil al-Hayya, tiba di Mesir pada Minggu malam (5/10) untuk memulai perundingan tidak langsung dengan Israel.

Pertemuan yang dimediasi Mesir ini akan membahas mekanisme gencatan senjata, penarikan pasukan Israel, serta pertukaran tawanan, berdasarkan rencana perdamaian yang diajukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Kedatangan delegasi Hamas ini disusul oleh rombongan negosiator Israel yang dipimpin Menteri Urusan Strategis Ron Dermer, pada Senin pagi di kota Sharm el-Sheikh.

Sumber diplomatik Mesir mengonfirmasi bahwa pembicaraan teknis akan dimulai hari ini, hal ini dilakukan sambil menunggu kehadiran utusan khusus AS Jared Kushner dan Steve Witkoff, yang dijadwalkan tiba dalam dua hari ke depan untuk memperkuat upaya diplomatik.

Menurut salah seorang pejabat Amerika yang dikutip situs Axios, perkembangan menuju kesepakatan sejauh ini dinilai positif, meski masih banyak tantangan di lapangan.

Washington disebut tengah menekan kedua pihak untuk menyepakati gencatan senjata tanpa penundaan, demi menghentikan penderitaan warga sipil yang telah berlangsung selama dua tahun penuh.

Krisis Kemanusiaan Masih Parah

Di sisi lain, situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk.

Pada hari ke-731 sejak dimulainya agresi, pasukan pendudukan Israel masih menggempur berbagai wilayah di Jalur Gaza, terutama di sekitar Jalan Ar-Rasyid.

Sedikitnya 16 warga Palestina gugur syahid pada Ahad (5/10) akibat serangan udara dan tembakan artileri.

Laporan dari Al Jazeera menyebut bahwa ratusan pengungsi kini bertahan di sepanjang Jalan Ar-Rasyid, mendirikan tenda-tenda darurat tanpa akses memadai terhadap air bersih, makanan, maupun obat-obatan.

Sementara itu, Kantor Media Pemerintah di Gaza melaporkan bahwa jumlah korban syahid dan hilang telah melampaui 76.639 orang, dengan tingkat kehancuran mencapai 90 persen dari seluruh wilayah Gaza.

Sikap Kedua Pihak

Di pihak Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa negaranya tidak akan melangkah ke tahap berikutnya dalam rencana Trump sebelum semua sandera—baik hidup maupun meninggal—dibebaskan.

Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir bahkan menuntut jaminan agar Israel dapat kembali berperang jika Hamas tidak melucuti senjatanya.

Sementara itu, Hamas, melalui pernyataannya pada Jumat lalu, menyatakan kesediaan untuk membebaskan seluruh tawanan Israel, hidup maupun meninggal, serta menyerahkan pengelolaan Jalur Gaza kepada badan teknokrat independen Palestina, yang bekerja di bawah kesepakatan nasional dan dukungan negara-negara Arab serta Islam.

Kesimpulan

Pertemuan di Mesir kali ini menjadi momentum penting setelah dua tahun genosida dan penderitaan rakyat Gaza.
Meskipun pertempuran masih berlangsung dan ketegangan politik tetap tinggi, kehadiran kedua pihak di meja perundingan memberi secercah harapan baru bagi berakhirnya perang yang telah menelan puluhan ribu korban jiwa dan meluluhlantakkan Gaza.

✒️ Madarif Institute. – Al Jazeera, Palestine Information Center, Axio
🎥 Youtube: Madarif Institute
📸 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org