عن جابر بن سمُرة، قال: رأيتُ رسولَ اللهِ في ليلةٍ إِضْحِيانٍ ، وعليه حُلَّةٌ حمراءُ ، فجعلتُ أنظرُ إليه وإلى القمرِ ، فلهوَ عندي أحسنُ من القمرِ
Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah ﷺ pada suatu malam idhhiyān (malam terang benderang ketika bulan purnama bersinar), dan beliau mengenakan hullah (pakaian) berwarna merah. Lalu aku memandang beliau dan memandang bulan. Sungguh, beliau menurut pandanganku lebih indah daripada bulan itu.”
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum sangat mencintai Nabi ﷺ dengan kecintaan yang mendalam. Mereka pun memperhatikan dengan penuh perhatian setiap detail dari sifat-sifat beliau, baik sifat fisik maupun akhlaknya, hingga akhirnya mereka meriwayatkannya kepada kita dengan deskripsi yang paling indah.
Dalam hadis ini, Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu menceritakan pengalamannya: “Aku melihat Nabi ﷺ pada suatu malam idhhiyān.” Malam idhhiyān adalah malam yang bercahaya terang, ketika bulan terlihat jelas dan bersinar penuh. Pada malam itu, Rasulullah ﷺ mengenakan pakaian berwarna merah, berupa hullah, yaitu pakaian yang terdiri dari dua potong, izar (sarung) dan rida’ (selendang).
Jabir lalu berkata: “Aku mulai melihat Rasulullah ﷺ, kemudian melihat bulan.” Beliau membandingkan keindahan wajah Nabi ﷺ dengan cahaya bulan. Setiap kali menatap wajah Rasulullah ﷺ, ia mendapati keindahan yang jauh lebih memikat dibanding cahaya rembulan. Maka ia pun menegaskan: “Sungguh, beliau menurut pandanganku lebih indah daripada bulan.”
Keindahan wajah beliau ﷺ bukan sekadar keelokan rupa lahiriah. Cahaya yang terpancar darinya adalah cahaya nubuwah, cahaya yang menenteramkan hati dan menyinari jiwa. Cahaya itu bersifat hakiki, melekat pada beliau ﷺ, tidak pernah berkurang dan tidak pernah sirna. Sedangkan cahaya bulan hanyalah cahaya pinjaman dari matahari, terkadang redup, terkadang purnama, bahkan kadang tertutupi gerhana.
Disebutkan pula dalam riwayat dari Ibn al-Mubarak dan Ibn al-Jauzi:
((لم يكن له ظل، ولم يقم مع شمس قط إلا غلب ضوؤه على ضوء الشمس، ولم يقم مع سراج قط إلا غلب ضوؤه على ضوء السراج))
“Beliau ﷺ tidak memiliki bayangan. Beliau tidak pernah berdiri bersama sinar matahari melainkan cahaya beliau lebih unggul daripada cahaya matahari. Dan beliau tidak pernah berdiri bersama lampu melainkan cahaya beliau lebih unggul daripada cahaya lampu.”
Penjelasan dari perkataan Ibn al-Mubarak dan Ibn al-Jauzi ini adalah bahwa Rasulullah ﷺ memiliki ketampanan yang sempurna serta wajah yang memancarkan cahaya. Kecantikan itu bukan hanya tampak di mata, namun juga terasa oleh hati setiap orang yang melihatnya.
Faedah dari Hadis Ini:
- Keindahan Nabi ﷺ melebihi segala keindahan makhluk – bahkan cahaya bulan purnama tidak dapat menandingi cahaya wajah beliau.
- Kecintaan para sahabat kepada Nabi ﷺ– mereka menggambarkan beliau dengan penuh kekaguman, sehingga kita pun dapat mencintai beliau dengan pengenalan yang benar.
- Cahaya kenabian bersifat hakiki – cahaya Nabi ﷺ adalah cahaya ilahi yang melekat padanya, berbeda dengan cahaya benda-benda langit yang hanya bersifat sementara dan pinjaman.
Wallāhu subḥānahu wa ta‘ālā a‘lam
📚 Al Mawahib Al Ladunniyah ‘ala Asy Syamail Al Muhammadiyah
✒️ Madarif Institute
Untuk mendukung dakwah Madarif Institute silahkan berikan infaq terbaik melalui rekening: 7314673349 (BSI) a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA
🎥 Youtube: Madarif Institute
📷 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org
