Indonesia, Cerita Tentang Bahasa Kita

Oleh: Ummu Habibah
Pemenang Juara 3 Lomba Esai 17 Agustus Madarif Institute

Indonesia adalah sebuah mozaik yang memukau, sebuah paduan harmonis dari ribuan pulau yang membentang luas, ratusan suku bangsa dengan kekayaan adat istiadatnya, dan lebih dari 700 bahasa daerah yang hidup dan berkembang dalam keseharian masyarakatnya. Bayangkanlah betapa dahsyatnya keragaman ini: dari ujung barat di Sabang hingga tapal batas timur di Merauke, setiap jengkal tanah seperti memiliki napasnya sendiri, dengan logat yang khas, dialek yang unik, serta kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Semesta keberagaman yang begitu melimpah ini melahirkan pertanyaan fundamental yang kerap mengemuka di benak kita: apakah gerangan yang mengikat kita semua sebagai satu bangsa? Apa yang memungkinkan seorang individu dari suku Batak dapat bercengkrama akrab dan memahami dengan baik seorang Jawa, atau seorang Sunda berbagi kisah dan tawa dengan seorang Papua, seolah tidak ada sekat yang memisahkan? Jawabannya, sesederhana esensinya namun sangat fundamental dalam dampaknya: Bahasa Indonesia. Inilah kisah sesungguhnya yang kita rajut bersama. Cerita tentang sebuah bahasa yang tumbuh dari akar Melayu yang sederhana, menempa diri dalam kancah perjuangan kemerdekaan, dan kini berdiri tegak sebagai pilar utama persatuan bangsa yang tak tergantikan.

Keajaiban cerita ini bukan hanya dirasakan oleh kita yang hidup di dalamnya, melainkan juga memukau mereka yang melihat dari luar. Penulis teringat sebuah pertemuan internasional, di mana seorang kenalan dari Timur Tengah mengungkapkan keheranan. Ia mengira, layaknya sebagian besar negara Arab yang bersatu dalam satu bahasa utama meskipun banyak negaranya, Indonesia pun demikian. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui fakta bahwa di tanah air kita, ratusan bahasa dan suku bangsa hidup berdampingan. Dari perbincangan sederhana itu, penulis tak hanya melihat dia terbuka matanya, tetapi juga semakin tersadar betapa keragaman bahasa yang kita miliki di Indonesia adalah permata yang luar biasa dan tiada tara. Ini benar-benar anugerah tak ternilai yang membedakan kita dari banyak negara lain di dunia.

Namun, di sisi lain, keberagaman yang indah ini juga tak pelak merupakan tantangan besar. Bagaimana kita bisa menyatukan suara dari begitu banyak laring yang memiliki nada berbeda, menyatukan pikiran dari begitu banyak dialek yang berlainan, menjadi satu kesatuan yang utuh dan harmonis?

Sejarah bangsa kita, yang tertulis dalam lembar-lembar masa lalu, mencatat bahwa jauh sebelum gema proklamasi kemerdekaan berkumandang, bahasa Melayu telah memegang peranan krusial sebagai lingua franca atau bahasa pergaulan yang universal di berbagai pelabuhan dan pusat perdagangan di seluruh Nusantara. Bahasa ini, dengan sifatnya yang lentur dan struktur yang relatif mudah dipelajari, mampu menjembatani komunikasi antar suku-suku yang berbeda dan para pedagang dari berbagai penjuru dunia, baik dari Asia maupun Eropa. Ia menjadi saksi bisu pahitnya masa penjajahan yang menyiksa, sekaligus eratnya tali persaudaraan yang terjalin dalam penderitaan dan penindasan.

Maka, tidaklah mengherankan sama sekali jika pada Kongres Pemuda II yang bersejarah, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda-pemudi yang datang dari berbagai pelosok Nusantara dengan semangat dan bulat hati mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Salah satu butir ikrar penting dalam sumpah itu dengan tegas menyatakan: “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.” Momen ini adalah sebuah titik balik yang fundamental, ketika bahasa Melayu bertransformasi melampaui fungsinya sebagai alat komunikasi semata, menjadi Bahasa Indonesia yang bukan hanya merupakan identitas, melainkan juga sebagai simbol perlawanan dan persatuan dalam narasi kolektif bangsa.

Keputusan strategis para pendiri bangsa dalam memilih Bahasa Indonesia ini semakin terasa unik dan visioner jika kita bandingkan dengan negara tetangga kita, Malaysia. Di sana, bahasa persatuan yang dominan adalah bahasa Inggris, warisan langsung dari kolonialisme yang pernah bercokol di tanah mereka. Hal ini menunjukkan betapa orisinal dan jauh ke depan pemikiran para pahlawan kita. Mereka tidak memilih bahasa penjajah, melainkan mengangkat bahasa pribumi yang sudah akrab dengan denyut nadi rakyat. Penggunaan bahasa Indonesia bukan lagi sebatas formalitas administratif atau komunikasi sehari-hari, melainkan telah meresap dan menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan berbangsa. Perannya sangat sentral dalam menyatukan narasi perjuangan kemerdekaan.

Melalui karya sastra yang membakar semangat, pidato-pidato heroik para tokoh bangsa, dan berbagai media massa berbahasa Indonesia, benih-benih semangat kemerdekaan disemai dan disebarkan ke seluruh pelosok negeri, dari Sabang hingga Merauke. Para pejuang dan rakyat jelata, meski berasal dari suku yang berbeda dan memiliki bahasa ibu yang berlainan, dapat memahami dengan jelas pesan-pesan persatuan dan perlawanan terhadap penjajah, mengukir kisah bersama dalam perjuangan yang takkan terlupakan. Lembaga-lembaga negara, seperti Badan Bahasa, sejak awal berdirinya hingga kini, telah dan terus berperan besar dalam upaya standarisasi, pengembangan, dan penyebarluasan bahasa Indonesia, memastikan bahwa ia terus beradaptasi dengan zaman dan senantiasa kaya akan kosakata baru.

Namun, di tengah hiruk-pikuk era globalisasi dan derasnya arus informasi yang tidak terbendung, bahasa Indonesia menghadapi tantangan yang tidak bisa dianggap remeh. Kita sering kali menyaksikan fenomena di mana generasi muda, mungkin karena pengaruh masif dari media sosial, budaya populer luar negeri, atau tren gaya hidup, merasa lebih “gaul” atau lebih percaya diri ketika menggunakan campuran bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Seolah-olah, bahasa Indonesia dianggap “kuno,” “kurang modern,” atau “kurang keren” di mata mereka. Argumen yang sering terlontar adalah bahwa bahasa Indonesia “miskin kosakata” dan tidak mampu mengakomodasi ide-ide kompleks.

Padahal, jika kita telaah lebih jauh, dibandingkan dengan bahasa-bahasa besar dunia yang telah berusia ratusan bahkan ribuan tahun, seperti Inggris, Mandarin, atau Arab, bahasa Indonesia relatif masih sangat muda. Usianya belum genap satu abad sejak momen Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak kelahirannya sebagai bahasa persatuan. Justru di sinilah letak kekuatan sesungguhnya: kemudaan bahasa Indonesia memberinya potensi yang sangat besar untuk terus berkembang, menyerap kosakata baru dari berbagai sumber, dan memperkaya dirinya. Fleksibilitasnya dalam menerima serapan dari bahasa daerah maupun bahasa asing adalah bukti vitalitasnya. Fenomena trilingual yang unik di Indonesia, di mana banyak individu menguasai bahasa ibu, bahasa Indonesia, dan kemudian bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, adalah bukti kekayaan linguistik yang patut dibanggakan, sebuah keunikan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kolektif kita.

Maka dari itu, bahasa Indonesia sebagai cerita yang tengah kita rajut bersama ini, dengan segala perjuangan, tantangan, dan keunikannya, adalah sebuah panggilan. Ini adalah panggilan yang mendesak bagi setiap anak bangsa untuk kembali menyadari, menghargai, dan menumbuhkan kecintaan terhadap keindahan serta kekuatan bahasa persatuan kita. Kita perlu lebih banyak karya sastra yang menggali kedalaman dan kekayaan ekspresi bahasa Indonesia, mendorong studi bahasa untuk kembali menjadi pilihan karir yang diminati dan relevan di masa depan, serta menanamkan rasa bangga yang mendalam pada generasi penerus kita. Bahasa Indonesia bukan sekadar deretan kata atau alat komunikasi; ia adalah jembatan kokoh yang secara ajaib menghubungkan masa lalu yang penuh sejarah, masa kini yang dinamis, dan masa depan bangsa yang penuh harapan. Ia adalah rumah bagi identitas kolektif kita, wadah bagi semua mimpi dan cita-cita, serta fondasi yang tak tergoyahkan bagi persatuan yang kokoh dan abadi.

Menjaga, merawat, dan mengembangkan bahasa Indonesia dengan segala potensinya berarti kita secara aktif menjaga warisan budaya yang tak ternilai dan memperkuat simpul persatuan bangsa yang telah dibangun dengan tetesan darah dan keringat para pendahulu. Ini adalah tugas yang mulia dan tanggung jawab kita bersama, untuk memastikan bahwa narasi tentang bahasa yang menyatukan ini akan terus berlanjut, bergaung di setiap sudut negeri, dan menjadi inspirasi yang tak pernah padam bagi generasi-generasi yang akan datang. Bahasa Indonesia adalah suara kebersamaan kita, cerminan jiwa bangsa yang berbeda-beda namun tetap satu jua, dan bukti nyata bahwa dalam keberagaman yang begitu luas, kita justru menemukan kekuatan yang luar biasa.