عن خَارِجَةً بنِ زَيْدِ بنِ ثَابِت قال: دَخَلَ نَفَرٌ عَلى زَيْد بنِ ثَابتٍ فَقَالوا له: حَدَّثْنَا أَحَادِيثَ رَسُولِ الله وَلِفِ ، قَال: ماذَا أُحَدِّثُكُم؟ كُنْتُ جَارَهُ، فَكَان إِذا نَزَلَ عَلَيْه الوَحْيُ بَعَثَ إليَّ فَكَتَبْتُهُ لَه، فَكُنَّا إذا ذَكَرْنَا الدُّنْيا ذكَرَهَا مَعَنَا، وإذا ذَكَرْنا الآخِرَةَ ذَكَرَهَا مَعَنَا، وإذا ذَكَرْنا الطَّعَامَ ذَكَرَهُ مَعَنَا، فَكُلُّ هَذا أُحَدَّثُكُم عَنْ رَسُولِ اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم.
Artinya: Dari Khārijah bin Zaid bin Tsābit, ia berkata: Sekelompok orang masuk menemui Zaid bin Tsabit, lalu mereka berkata kepadanya: ”Ceritakanlah kepada kami hadis-hadis Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam.” Maka beliau berkata: “Apa yang akan aku ceritakan kepada kalian? Aku adalah tetangganya. Jika wahyu turun kepadanya, beliau mengutusku lalu aku menuliskannya untuk beliau. Maka kami, apabila menyebut dunia, beliau pun menyebutnya bersama kami; apabila kami menyebut akhirat, beliau pun menyebutnya bersama kami; apabila kami menyebut makanan, beliau pun menyebutnya bersama kami. Maka semua itu aku ceritakan kepada kalian dari Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam.”
Hadis yang diriwayatkan oleh Khārijah bin Zaid bin Tsabit ini mengisahkan pengalaman ayahnya, Zaid bin Tsabit, yang dikenal sebagai salah satu penulis wahyu Rasulullah ﷺ. Dalam riwayat tersebut, sekelompok orang datang menemui Zaid bin Tsabit dan meminta beliau untuk menceritakan hadis-hadis Rasulullah ﷺ.
Zaid kemudian menjawab dengan penuh kerendahan hati. Ia berkata bahwa dirinya adalah tetangga Rasulullah ﷺ, sehingga mengetahui banyak keadaan beliau sehari-hari. Ketika wahyu turun, Rasulullah ﷺ mengutusnya untuk menuliskan wahyu tersebut. Bahkan dalam keseharian, jika para sahabat berbicara tentang dunia, Rasulullah ﷺ ikut berbicara tentang dunia. Jika mereka berbicara tentang akhirat, beliau ikut berbicara tentang akhirat. Jika mereka menyebut tentang makanan, beliau juga ikut menyebut tentang makanan. Zaid menegaskan bahwa semua itu merupakan bagian dari apa yang ia riwayatkan dari Rasulullah ﷺ.
Kesederhanaan dan Keseimbangan Nabi ﷺ
Dari riwayat ini, tampak jelas bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam kesederhanaan dan keseimbangan. Beliau tidak pernah memisahkan diri dari sahabat-sahabatnya dalam percakapan sehari-hari. Ketika mereka menyebut perkara dunia, beliau tidak mencela atau berpaling, namun justru ikut serta dalam pembicaraan itu. Akan tetapi, yang beliau lakukan bukan sekadar ikut berbicara, melainkan memberikan arahan agar urusan dunia tetap terhubung dengan tujuan akhirat. Misalnya, ketika berbicara tentang jihad atau musyawarah terkait urusan kaum Muslimin, beliau menjelaskan arah dan hikmah yang terkait dengannya.
Hal ini menunjukkan bahwa dunia bukanlah sesuatu yang tercela selama digunakan untuk menolong agama Allah dan menjadi jalan menuju akhirat.
Pengingat Tentang Akhirat
Ketika para sahabat menyebut tentang akhirat, Rasulullah ﷺ ikut mengingatkan mereka dengan lebih detail. Beliau menggambarkan keadaan akhirat, mengingatkan tentang pahala, siksa, dan perjalanan hidup setelah mati. Dengan cara ini, beliau menanamkan kesadaran bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan tujuan utama seorang mukmin adalah kebahagiaan di akhirat.
Akhlak beliau dalam momen ini menunjukkan sifat ra’fah (kasih sayang) dan taujīh (mengarahkan). Beliau tidak membiarkan pembicaraan tentang akhirat berlalu begitu saja, tetapi menambahkan penjelasan agar sahabat-sahabatnya lebih dalam memahami persoalan akhirat.
Keakraban Nabi ﷺ dalam Perkara Sehari-hari
Yang menarik, bahkan dalam hal-hal yang ringan seperti makanan, Rasulullah ﷺ tetap ikut serta. Beliau berbicara tentang jenis-jenis makanan, minuman, dan buah-buahan. Namun bukan sekadar menyebutnya, beliau menjelaskan manfaat, mudarat, dan hikmah yang ada di baliknya. Inilah yang kemudian dikenal dalam ilmu ath-thibb an-nabawī (pengobatan ala Nabi).
Sikap beliau ini menegaskan bahwa membicarakan hal-hal mubah seperti makanan bukanlah tercela, asalkan tidak melalaikan dari ketaatan. Bahkan, beliau mengajarkan adab dan hikmah di baliknya. Akhlak beliau mencontohkan bahwa seorang pemimpin atau orang besar tidak seharusnya menjauh dari pembicaraan sederhana dengan sahabat-sahabatnya. Justru, kebersamaan inilah yang menumbuhkan rasa kedekatan, cinta, dan teladan yang nyata.
Faedah dari Hadits:
- 1. Nabi ﷺ hidup sederhana dan dekat dengan sahabat-sahabatnya. Beliau tidak memisahkan diri dengan meninggikan derajat percakapan, tetapi turun kepada mereka, menjadikan dirinya bagian dari mereka.
- 2. Beliau selalu mengarahkan pembicaraan kepada nilai-nilai akhirat. Meski membicarakan dunia, ujungnya tetap diarahkan pada tujuan yang lebih tinggi.
- 3. Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam berbincang tentang hal-hal mubah. Baik itu dunia, akhirat, bahkan makanan, beliau selalu memberi makna dan hikmah, sehingga setiap pembicaraan menjadi bermanfaat.
- 4. Akhlak beliau mencerminkan keseimbangan. Tidak berlebih-lebihan dalam dunia, namun juga tidak mengabaikannya; tidak lalai dengan akhirat, namun juga tetap memberikan hak tubuh dan jiwa dengan makanan, istirahat, serta percakapan yang ringan.
Wallāhu subḥānahu wa ta‘ālā a‘lam
📚 Al Mawahib Al Ladunniyah ‘ala Asy Syamail Al Muhammadiyah
✒️ Madarif Institute
Untuk mendukung dakwah Madarif Institute silahkan berikan infaq terbaik melalui rekening: 7314673349 (BSI) a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA
🎥 Youtube: Madarif Institute
📷 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org
