Dunia Islam dan Arab Bersiaplah, Jalan Damai di Gaza Kian Menjauh

Selasa 02 September 2025

Harapan untuk mencapai gencatan senjata di Gaza semakin menjauh setelah pemerintah Israel, dengan dukungan Amerika Serikat, memutuskan untuk menduduki Kota Gaza secara resmi. Keputusan ini diambil meski para pejabat keamanan, termasuk kepala staf militer, Mossad, dan Shin Bet, mendukung kesepakatan pertukaran tawanan yang sudah ada. Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tetap bersikeras menolak dengan alasan kesepakatan itu tidak layak.

Kepala Staf Eyal Zamir disebut berusaha menunda operasi dengan menggerakkan opini publik agar menolak pendudukan Gaza. Ia menilai operasi ini sebagai “jebakan strategis” yang ditolak 80 persen warga Israel, penolakan ini terlihat dibeberapa pernyataannya meski dirinya belum berani menyatakan penolakan secara terbuka. Menurut analis politik Muhannad Mustafa, situasi ini menandai pergeseran berbahaya, di mana keputusan perang tidak lagi berada di tangan militer, melainkan dikendalikan oleh kepentingan politik.

Mustafa menilai penyebab sikap keras Netanyahu adalah dukungan Presiden Donald Trump. Ia menyebut Trump tidak lagi sekadar mendukung Israel, tetapi secara khusus mendukung Netanyahu dan ideologi sayap kanan ekstrem yang sangat pro dengan pemusnahan massal di Palestina. Hal ini, menurutnya, tampak jelas dalam ancaman Trump terhadap pengadilan internasional yang berupaya menjerat Israel.

Peneliti internasional Husam Shaker menambahkan bahwa Netanyahu kini menjadi “tawanan” kepentingan pribadi dan koalisi sayap kanannya, sementara dunia Islam dan Arab perlu segera bersikap karena dukungan internasional hanya sebatas retorika.

Namun, mantan pejabat Kementerian Luar Negeri AS Thomas Warrick melihat peluang perubahan. Ia menilai pertemuan antara keluarga tawanan dan Trump bisa membuka ruang diplomasi baru. Meski demikian, Warrick menegaskan keputusan Trump sulit diprediksi.

Di sisi lain, militer Israel berencana memobilisasi 60 ribu pasukan cadangan untuk memperkuat perbatasan Suriah, Lebanon, dan Tepi Barat, agar pasukan reguler bisa fokus bertempur di Gaza. Pakar militer Elias Hanna menilai Israel menghadapi tantangan besar: biaya operasi tinggi, pasukan lelah, dan strategi militer yang belum menunjukkan hasil.

Dengan kondisi politik dan militer yang terus berbenturan, jalan menuju perdamaian di Gaza masih terlihat jauh.

✒️ Madarif Institute – Al Jazeera.
🎥 Youtube: Madarif Institute
📸 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org

Dukung dakwah dan karya Madarif Institute:

BSI 7314673349 a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA