Selasa, 26 Agustus 2025
Israel tidak memberi kesempatan kepada Muhammad Salamah, fotografer Al Jazeera yang akrab dipanggil “al-Asmar” oleh rekan-rekannya, untuk melangsungkan pernikahan sebagaimana yang ia rencanakan dalam waktu dekat.
Ia gugur akibat serangan pesawat tak berawak Israel ketika menjalankan tugas jurnalistiknya di Kompleks Medis Nasser, Khan Younis. Muhammad disemayamkan dengan kafan putih bersama empat rekannya yang turut syahid. Dengan demikian, jumlah jurnalis yang syahid di Gaza telah mencapai 245 sejak awal perang genosida.
Rekan-rekan Muhammad mengenangnya sebagai pribadi berakhlak mulia, dicintai banyak orang, dan berbakti kepada ayahnya. Ia juga dikenal sangat merindukan ibunya yang wafat ketika ia masih kecil. Dalam jeda gencatan senjata pertama, ia bahkan menyempatkan diri mengunjungi makam ibunya untuk menumpahkan kerinduan.
Pada Hari Kebebasan Pers Sedunia, 3 Mei lalu, tunangannya Hala ‘Asfour menuliskan keresahan bahwa kata-kata kini telah menjadi peluru dan kamera telah berubah menjadi senjata. Ia menutup tulisannya dengan kalimat: “Kebebasan pers? Kami menebusnya dengan darah kami…”
Kisah pertunangan Muhammad juga menyimpan kenangan unik di tengah krisis pangan. Jurnalis Haitham ‘Asfour menuturkan bahwa Muhammad menghadiahkan kepada tunangannya “seikat roti”, yang di Gaza saat itu lebih berharga daripada emas.
Koresponden Al Jazeera, Hani al-Sya‘ar, yang menjadi sahabat dekatnya, menggambarkan Muhammad sebagai sosok penuh pengorbanan. Ia tidak pernah meninggalkan Kompleks Nasser sejak awal perang, bahkan tetap bertahan ketika fasilitas medis itu dikepung pasukan Israel.
Jurnalis muda ini dikenal rajin mendokumentasikan penderitaan anak-anak Gaza yang tewas akibat kelaparan. Salah satu liputan terakhirnya adalah kisah memilukan bocah perempuan bernama Rasil, yang ia rekam saat masih berjuang menahan sakit di pagi hari, namun syahid di sore harinya. Muhammad menulis: “Anak-anak Gaza mati kelaparan di depan mata dunia, dan tidak ada seorang pun yang bergerak.”
Seperti 244 jurnalis Palestina sebelumnya, Muhammad Salamah telah memilih mendahulukan penderitaan rakyat Gaza di atas kisah pribadinya, meninggalkan jejak terhormat berupa keberanian, pengorbanan, dan warisan perjuangan.
📚 Sumber: Al Jazeera Arabic
✒️ Madarif Institute
🎥 Youtube: Madarif Institute
📸 Instagram: @madarifinstitute
🌐 Web: madarifinstitute.org
Dukung dakwah dan advokasi Madarif Institute:
BSI 7314673349 a.n YYS MADARIF INSPIRASI INDONESIA
