Mengapa Tahun Hijriah diawali dengan Bulan Muharram?

Permulaan Penanggalan Hijriah dan Orang yang Pertama Kali Menetapkannya

Diketahui bahwa arti “tarikh” (sejarah/penanggalan) bagi segala sesuatu adalah batas akhirnya dan waktu yang padanya sesuatu itu selesai, sedangkan secara istilah adalah penentuan suatu perbuatan dengan waktu tertentu supaya diketahui jarak waktu antara awal dan akhirnya. Ada pula yang mengatakan: ia adalah hari yang dikaitkan dengannya apa yang terjadi setelahnya. Ada juga yang mengatakan: ia adalah suatu masa tertentu yang dihitung dari awal waktu tertentu agar waktu-waktu yang ditentukan bisa diketahui. Oleh karena itu, penanggalan tidak bisa ditinggalkan dalam segala urusan duniawi maupun ukhrawi. Lihat: Faid al-Qadir karya Imam al-Munawi (1/101, cet. al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra).

Pada mulanya, bangsa Arab menetapkan tahun gajah (عام الفيل) sebagai acuan penanggalan mereka, yaitu tahun kelahiran Nabi ﷺ. Hal ini terus berlaku pada masa Rasulullah ﷺ dan masa Abu Bakar ra., hingga ketika Umar bin Khattab ra. menjadi khalifah, ia mengumpulkan para sahabat dan mereka sepakat untuk menjadikan hijrah sebagai permulaan penanggalan Islam.

Al-Hafiz Ibnu Katsir menyebutkan dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah (4/511, cet. Hajar) dari al-Waqidi:

[حدثنا ابن أبي الزناد عن أبيه، قال: استشار عمر في التأريخ فأجمعوا على الهجرة]

“Ibnu Abi Zinad meriwayatkan dari ayahnya: Umar bermusyawarah dalam menetapkan penanggalan, lalu mereka sepakat pada hijrah.”

Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya memberi bab khusus: Bab at-Tarikh wa Mata Arrakhu at-Tarikh (Bab Sejarah dan Kapan Mereka Memulai Sejarah), lalu beliau membawakan ucapan Sahl bin Sa’ad ra.:

“ما عدوا من مبعث النبي صلى الله عليه وآله وسلم، ولا من وفاته، ما عدوا إلا من مقدمه المدينة”

“Mereka tidak menghitung (awal tahun) dari saat Nabi ﷺ diutus, tidak pula dari wafatnya, melainkan mereka menghitung dari kedatangannya ke Madinah.”

Ibnu Katsir (4/511) juga menambahkan:

[وقال أبو داود الطيالسي: عن قرة بن خالد السدوسي، عن محمد بن سيرين، قال: قام رجل إلى عمر فقال: أَرِّخوا. فقال: ما أَرِّخوا؟ فقال: شيء تفعله الأعاجم؛ يكتبون: في شهر كذا من سنة كذا. فقال عمر: حَسَنٌ فأَرِّخوا. فقالوا: من أي السنين نبدأ؟ فقالوا: من مبعثه. وقالوا: من وفاته. ثم أجمعوا على الهجرة، ثم قالوا: وأي الشهور نبدأ؟ فقالوا: رمضان. ثم قالوا: المُحَرَّم؛ فهو منصرف الناس من حجهم، وهو شهر حرام. فاجتمعوا على المُحَرَّم]

“Abu Dawud ath-Thayalisi meriwayatkan dari Qurrah bin Khalid, dari Muhammad bin Sirin: Seorang lelaki berdiri kepada Umar dan berkata: ‘Buatlah penanggalan!’ Umar bertanya: ‘Apa itu penanggalan?’ Ia menjawab: ‘Sesuatu yang dilakukan bangsa non-Arab, mereka menulis: pada bulan ini di tahun sekian.’ Umar berkata: ‘Bagus, buatlah penanggalan!’ Mereka bertanya: ‘Dari tahun mana kita mulai?’ Ada yang berkata: dari saat beliau diutus. Ada pula yang berkata: dari wafatnya. Lalu mereka sepakat pada hijrah. Kemudian mereka berkata: ‘Bulan apa yang kita jadikan awal?’ Ada yang berkata: Ramadhan. Lalu mereka berkata: ‘Muharram, karena itu adalah saat orang-orang pulang dari haji mereka dan itu bulan haram.’ Maka mereka sepakat pada Muharram.”

Selanjutnya Ibnu Katsir (4/512) menyebutkan:

[والمقصود أنهم جعلوا ابتداء التاريخ الإسلامي من سنة الهجرة، وجعلوا أولها من المُحَرَّم، فيما اشتهر عنهم، وهذا هو قول جمهور الأئمة]

“Maksudnya mereka menjadikan permulaan penanggalan Islam dari tahun hijrah, dan mereka menjadikan awalnya dari Muharram sebagaimana yang masyhur dari mereka, dan ini adalah pendapat mayoritas para imam.”

Al-Zurqani dalam syarah al-Mawahib al-Ladunniyyah (2/153-154, cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah) mengatakan:

[ولم يؤرخوا بالمولد ولا بالمبعث؛ لأن وقتهما لا يخلو من نزاع من حيث الاختلاف فيهما، ولا بالوفاة النبوية؛ لما يقع في تذكره من الأسف والتألم على فراقه]

“Mereka tidak memulai penanggalan dari kelahiran maupun dari pengutusan beliau, karena waktunya diperselisihkan. Tidak juga dari wafat beliau karena akan menimbulkan kesedihan dan rasa duka atas perpisahan dengannya.”

Sebab Penetapan Tahun Hijriah Dimulai dengan Bulan Muharram

Telah diketahui bahwa Nabi ﷺ memasuki Madinah pada bulan Rabiul Awwal. Namun, niat untuk hijrah dan persiapan hijrah sudah dimulai pada bulan Muharram setelah selesainya musim haji di mana terjadi Baiat al-Ansar.
Kemudian mereka berkata:

“Bulan apa yang kita mulai?” Mereka berkata: “Ramadhan.” Lalu mereka berkata: “Muharram, karena itu adalah saat orang-orang kembali dari haji mereka dan itu bulan haram.” Maka mereka sepakat pada Muharram.

Ibnu Katsir berkata (4/512):

[والمقصود أنهم جعلوا ابتداء التاريخ الإسلامي من سنة الهجرة، وجعلوا أولها مِن المُحَرَّم فيما اشتهر عنهم، وهذا هو قول جمهور الأئمة]

“Maksudnya mereka menjadikan awal penanggalan Islam dari tahun hijrah, dan mereka menjadikan awalnya dari Muharram sebagaimana masyhur dari mereka, dan ini adalah pendapat mayoritas imam.”

Al-Suhaili dalam ar-Raud al-Unuf (4/151, cet. Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi) menyebutkan:

[قدم رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم المدينة يوم الإثنين حين اشتد الضحاء وكادت الشمس تعتدل لثنتي عشرة ليلة مضت من شهر ربيع الأول، وهو التاريخ فيما قال ابن هشام]

“Rasulullah ﷺ tiba di Madinah pada hari Senin di waktu dhuha, ketika matahari hampir condong, pada dua belas malam berlalu dari bulan Rabiul Awwal, dan itu yang disebut sebagai sejarah menurut Ibnu Hisyam.”

Disebut dalam Dala’il al-Nubuwwah karya al-Baihaqi (2/511, cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah):

“قدِم رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم المدينة يوم الإثنين لاثنتي عشرة ليلة خلت من شهر ربيع الأول، فأقام بالمدينة عشر سنين”

“Rasulullah ﷺ tiba di Madinah pada hari Senin, dua belas malam berlalu dari Rabiul Awwal, lalu beliau tinggal di Madinah selama sepuluh tahun.”

Hikmah Penetapan Hijrah sebagai Awal Penanggalan Islam

Hijrah adalah peristiwa besar dalam sejarah umat Islam, yang layak dijadikan permulaan penanggalan Islam karena makna luhur yang dikandungnya. Ia adalah bukti nyata keteguhan kaum mukmin dalam mempertahankan agama mereka; mereka hijrah ke Madinah meninggalkan negeri, keluarga, rumah, dan harta mereka semata-mata demi hidup sebagai Muslim yang taat kepada Allah Ta’ala.

Sebagaimana firman Allah:

﴿لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ﴾

“(Juga) bagi orang-orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)

Hijrah juga merupakan awal berdirinya negara Islam, peletakan syariat dan dasar tatanan masyarakat, mengatur hubungan sosial dan internasional, serta menetapkan prinsip hidup berdampingan dan toleransi.