Apabila kaum muslimin ditimpa suatu musibah besar (nazilah), maka tidak ada perselisihan di antara para ulama tentang disyariatkannya qunut dalam shalat Subuh. Adapun perselisihan terjadi pada selain Subuh dari shalat-shalat fardhu lainnya. Di antara para ulama ada yang berpendapat qunut hanya terbatas pada shalat Subuh saja, seperti mazhab Maliki. Dan ada pula yang memperluas qunut tersebut pada seluruh shalat berjamaah yang jahr (dikeraskan bacaannya), yakni mazhab Hanafi.
Pendapat yang benar menurut mazhab Syafi’i adalah qunut disyariatkan pada semua shalat fardhu ketika terjadi nazilah. Mereka memberi contoh musibah itu seperti: wabah penyakit, kekeringan, hujan yang merusak bangunan atau tanaman, takut terhadap serangan musuh, atau tertawannya seorang ulama.
Maka kesimpulannya, para ulama hanya berbeda pendapat dalam hukum qunut pada shalat Subuh ketika tidak terjadi musibah. Adapun ketika terjadi musibah, para ulama sepakat bahwa qunut disyariatkan dan disunnahkan dalam shalat Subuh, dan mereka berbeda pendapat dalam selainnya dari shalat fardhu.
Tata Cara Doa Qunut
Adapun tata cara doa qunut bagi orang yang shalat sendirian adalah membaca dengan lirih dan tidak mengeraskan suara. Sedangkan imam disunnahkan untuk mengeraskan suara dalam setiap keadaan, bahkan dalam shalat sir (yang bacaannya pelan). Dan makmum mengamini doa imam dengan suara keras.
Telah tetap dalam sunnah bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم langsung memulai doa setelah mengucapkan:
«سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ»
pada rakaat terakhir. Sebagaimana terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan lainnya, dari Abu Hurairah رضي الله عنه:
«أن النبي صلى الله عليه وسلم لما رفع رأسه من الركعة الثانية من الصبح قال: اللهم أنج الوليد بن الوليد وسلمة بن هشام وعياش بن أبي ربيعة والمستضعفين بمكة، اللهم اشدد وطأتك على مضر، اللهم اجعلها عليهم سنين كسني يوسف.»
Artinya:
“Bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم ketika mengangkat kepalanya dari rakaat kedua shalat Subuh, beliau berdoa: Ya Allah, selamatkanlah al-Walid bin al-Walid, Salamah bin Hisyam, dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah serta orang-orang lemah di Makkah. Ya Allah, timpakanlah tekanan-Mu atas Mudar. Ya Allah, jadikanlah mereka mengalami musim paceklik seperti musim paceklik pada zaman Yusuf.“
Dan dalam Musnad Imam Ahmad serta Sunan Abu Dawud, dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما:
«قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم شهراً متتابعاً، في الظهر والعصر والمغرب والعشاء والصبح، في دبر كل صلاة، إذا قال: سمع الله لمن حمده – من الركعة الأخيرة – يدعو عليهم، على حي من بني سليم، على رعل وذكوان وعصية، ويؤمن من خلفه.»
Artinya:
“Rasulullah صلى الله عليه وسلم berqunut selama sebulan berturut-turut dalam shalat Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh, pada akhir setiap shalat, ketika beliau mengucapkan Sami’allahu liman hamidah pada rakaat terakhir, beliau mendoakan keburukan atas kabilah dari Bani Sulaim, atas (kabilah) Ra’l, Dzakwan, dan ‘Usayyah, dan orang-orang di belakang beliau mengaminkan.”
