Setelah Rabiâah bin Nashr wafat, Kerajaan Yaman dipimpin oleh Hassan bin Tubaan Asâad Abu Karib. Ayahnya, Tubaan Asâad, telah membuka jalan baginya. Ia pernah melakukan perjalanan dari Timur menuju Yatsrib (Madinah) dan tidak memancing kemarahan penduduk setempat. Ia bahkan menitipkan seorang putranya di sana, namun putranya tersebut dibunuh secara misterius.
đ¨ Marah karena kejadian itu, Tubaan mengerahkan pasukan untuk menghancurkan Madinah. Tapi, pasukan ini disambut oleh kabilah Anshar yang dipimpin âAmru bin Thallah, hingga pecah pertempuran. Anehnya, di malam hari mereka malah saling menjamu dan bersikap ramah đâď¸. Tubaan pun kagum dan berkata:
âSungguh kaum yang kami perangi ini memang sangat mulia.â
đ Saat Madinah dikepung, datanglah dua rahib Yahudi dengan ilmu yang luas. Mereka memperingatkan:
âJangan kau hancurkan kota ini. Di sinilah kelak Nabi terakhir akan berhijrah. Jika kau teruskan niatmu, kau akan tertimpa adzab!â
Tubaan yang terkesan dengan ilmu mereka akhirnya membatalkan serangan dan malah memeluk agama Yahudi.
Dalam perjalanan pulang ke Yaman, Tubaan singgah di Mekkah. Beberapa orang dari suku Hudzail mencoba menipunya dengan mengatakan:
âKami tahu tempat harta karun! Di sana ada emas, mutiara, dan perak!â
Mereka menyuruhnya menghancurkan Ka’bah dengan harapan ia binasa. Tapi lagi-lagi, dua rahib Yahudi memperingatkan:
âKa’bah adalah rumah suci yang dibangun oleh Ibrahim âalaihissalam. Jangan hancurkan, tapi muliakanlah!â
Tubaan pun melaksanakan thawaf, menyembelih kurban, mencukur rambutnya, dan tinggal di sana selama 6 hari. Ia membagikan sembelihan dan madu untuk penduduk Mekkah đđŻ. Dalam mimpinya, ia diperintahkan menyelimuti Ka’bah. Maka ia pun menjadi orang pertama yang membuat kiswah Kaâbah đ§ľđ. Ia juga membuat pintu Kaâbah dan memberi kunci.
Saat kembali ke Yaman, rakyat menolak memeluk agama Yahudi. Mereka meminta bertahkim dengan api suci yang dipercaya bisa membakar yang salah dan menyelamatkan yang benar.
Saat upacara dimulai:
⢠Kaum penyembah berhala terbakar bersama sesembahan mereka!Â
⢠Rahib Yahudi hanya berkeringat, tapi tak terbakar!Â
Suku Himyar pun akhirnya masuk Yahudi secara massal. Inilah awal penyebaran agama Yahudi di Yaman.
Saat Hassan (putra Tubaan) memimpin, ia menyerbu Bahrain. Namun, suku Himyar menolak dan meminta saudaranya, âAmru, membunuh Hassan untuk kembali ke Yaman. Hanya satu yang menolak: Dzu Ruâain Al-Himyari, yang menulis syair peringatan:
âSiapa yang lebih bahagia? Yang tidur nyenyak atau yang terus terjaga karena rasa bersalah?â
Setelah Hassan dibunuh, âAmru tidak bisa tidur. Setelah mencari jawaban ke banyak ahli, ia diberitahu: “Orang yang membunuh saudaranya akan dihantui selamanya.” Ia pun membunuh semua yang menyuruhnya… sampai tiba giliran Dzu Ruâain .
Dzu Ruâain menunjukkan surat syair tadi, dan akhirnya dibebaskan.
đ Likhniâah si Raja Bejat & Munculnya Dzu Nuwas
Setelah âAmru wafat, muncul raja bejat Likhniâah bin Yanuuf Dzu Syanaatir, seorang homoseksual. Ia memangsa anak-anak muda tampan . Suatu hari, ia memanggil Zurâah Dzu Nuwas â pemuda cerdas dan tampan, yang juga saudara Hassan. Tapi Dzu Nuwas membawa pisau tersembunyi đĄď¸ dan membunuh Likhniâah saat hendak dilecehkan.
đĽ Rakyat Yaman bersorak: “Engkau penyelamat kami, jadilah raja!” Maka Dzu Nuwas pun diangkat sebagai raja terakhir dari Himyar.
Di Najran, terdapat kaum pengikut ajaran Nabi Isa âalaihissalam, dipimpin Abdullah bin Ats-Tsaamir. Dzu Nuwas menuntut mereka masuk Yahudi. Ketika menolak, ia memerintahkan membuat parit besar berisi api dan membakar mereka hidup-hidup đĽđłď¸.
Sekitar 20.000 orang dibunuh, termasuk pemimpin mereka.
đ Allah pun menurunkan ayat tentang mereka dalam surah Al-Buruj:
“Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, berapi kayu bakar…“
(QS. Al-Buruj: 4â8)
đTahdzib Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam
âď¸ Madarif Institute
đ madarifinstitute
